CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok Mendapat Sorotan dari Pelaku Usaha


Kamis, 03 Maret 2022 / 18:15 WIB
Kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok Mendapat Sorotan dari Pelaku Usaha
ILUSTRASI. Sejumlah truk pengangkut peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (16/12/2021). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemacetan parah yang terjadi di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok pada Rabu (2/3) kemarin mendapat respons dari berbagai perwakilan pelaku usaha. Asal tahu saja, kemacetan tersebut berawal dari gangguan listrik di Common Gate Area (CGA) terminal New Priok Container Terminal One (NPCT-1) pada Rabu (2/3) pukul 01.00 WIB.

Ketua Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim mengaku, berdasarkan laporan yang masuk ke ALFI Jakarta, masalah gangguan listrik hanya terjadi di Common Gate Pelabuhan NPCT-1. Ini mengingat Tanjung Priok memiliki 5 terminal pelabuhan.

Walau begitu, imbasnya kemacetan terjadi di sekitar pelabuhan. Banyak kendaraan truk kontainer yang terjebak macet hingga sekitar 4 jam dan butuh waktu hingga Rabu siang untuk mengurai kemacetan tersebut. Alhasil, dampak secara materi dan waktu sudah dipastikan ada.

“Efeknya terjadi keterlambatan bagi anggota ALFI dan trucking yang akan mengambil kontainer impor untuk dikirim ke manufaktur atau industri, sedangkan untuk ekspor tidak ada kerugian ketinggalan pengapalan akibat keterlambatan gate in,” ungkap dia, Kamis (3/3).

Baca Juga: Pelabuhan Tanjung Priok Sempat Macet Parah, Ini Komentar Kemenhub

Ia menyebut, biasanya ada waktu-waktu tertentu kawasan Pelabuhan Tanjung Priok dilanda kemacetan akibat volume kontainer dan arus logistik yang tinggi. Hal ini terjadi utamanya mulai hari Rabu sampai Sabtu, karena para eksportir mengejar batas closing time sedangkan importir juga berbondong-bondong ke pelabuhan agar saat akhir pekan kontainer sudah dikirim ke industri.

ALFI Jakarta menemukan fakta bahwa area Common Gate di NPCT-1 kerap terjadi kemacetan karena lokasi Common Gate untuk menuju terminal pelabuhan sangat dekat dengan jalan raya umum. “Kami pernah usulkan dilakukan perubahan lay out serta Common Gate digeser lebih ke dalam lagi, namun sampai saat ini belum juga dilakukan,” tukas Adil.

Sementara untuk kelancaran arus barang ekspor-impor dan domestik, ALFI Jakarta sejak lama telah mengusulkan dibanun suatu sistem yang bernama Terminal Booking System (TBS) di Pelabuhan Tanjung Priok. Sistem ini dipandang dapat mengurai kemacetan dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok sehingga lebih efisien dan efektif dari sisi waktu.

“Namun, untuk menerapkan sistem ini pengelola pelabuhan harus menyiapkan buffer di sisi timur pelabuhan, sedangkan di sisi barat pelabuhan sudah ada buffer yang disiapkan,” jelas dia.

Baca Juga: Penjualan Tiket Secara Digital Jadi Fokus PT Pelni di Semua Cabang

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan, kemacetan di Pelabuhan Tanjung Priok bukan kali ini saja terjadi. Pernah suatu waktu, kontainer-kontainer dari pelaku usaha harus terjebak macet hingga semalam.

Meski tidak memiliki data yang pasti dan rinci, Toto mengaku kerugian yang ditimbulkan oleh kemacetan di kawasan pelabuhan tersebut cukup besar. Mulai dari membengkaknya biaya BBM, tol, dan akomodasi lain selama perjalanan, hingga penalti closing time di pelabuhan. “Supir dan pihak perusahaan sama-sama menanggung kerugian,” tutur dia, Kamis (3/3).

Dia menilai, tidak seharusnya Pelabuhan Tanjung Priok yang berlevel internasional mengalami gangguan listrik, sehingga timbul kemacetan parah. Pihak operator pelabuhan seharusnya sudah menyediakan genset atau bahkan memiliki suplai listrik secara mandiri untuk mengantisipasi potensi gangguan listrik.

Tak hanya soal listrik, kondisi jalan di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok juga kurang memadai karena dinilai terlalu sempit, sehingga ketika ada satu kontainer yang berhenti, maka bisa menimbulkan antrean panjang di belakangnya. “Tidak ada bahu jalan pula yang bisa dipakai untuk keadaan darurat,” imbuh Toto.

GPEI pun berharap pihak pengelola pelabuhan dan stakeholder terkait segera melakukan evaluasi dan penataan ulang Pelabuhan Tanjung Priok. Maklum, posisi Pelabuhan Tanjung Priok sangat krusial karena mengakomodasi kebutuhan pengangkutan logistik ekspor, impor, maupun domestik.

Dengan begitu, arus kontainer logistik yang keluar masuk pelabuhan tersebut sangat ramai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×