Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dua negara pengguna tenaga batubara terbesar di dunia, China dan India, secara serempak mengurangi produksi listrik dari bahan bakar fosil yang berpolusi tersebut sepanjang tahun 2025.
Melansir Bloomberg, Rabu (14/1/2025), menurut Lauri Myllyvirta, analis utama di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih yang menulis untuk Carbon Brief, langkah kedua negara ini terjadi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun.
Tercatat, produksi listrik tenaga batu bara di China turun 1,6% tahun lalu, sementara di India turun 3%. Ini adalah pertama kalinya kedua negara mengalami penurunan di tahun yang sama sejak 1973, ketika dunia berada di tengah-tengah embargo minyak Arab.
Baca Juga: Bayer Tambah Investasi Rp 99 Miliar, Kerek Kapasitas Produksi Suplemen Ibu Hamil
Penurunan ganda ini terjadi di tengah ekspansi energi terbarukan yang memecahkan rekor di masing-masing negara. Di China, gelombang besar tenaga surya dan angin baru mampu memenuhi peningkatan pesat konsumsi listrik. Di India, penurunan tenaga batubara sangat dibantu oleh cuaca yang lebih dingin dan permintaan yang lebih lambat.
Meski begitu, belum jelas apakah penurunan ini akan menandai titik balik yang lebih luas, atau hanya akan menjadi fluktuasi sementara.
Menurut Myllyvirta, China hanya perlu mempertahankan laju penambahan energi terbarukan untuk memaksa pembangkit listrik tenaga batu ara mengalami penurunan jangka panjang, sementara India perlu mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya.
Untuk dapat melakukan itu, diperlukan investasi besar-besaran dalam jaringan listrik untuk mengakomodasi lebih banyak sumber energi intermiten.
Penurunan produksi terjadi bahkan ketika kedua negara sedang memperluas kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara, meningkatkan risiko bahwa pembangkit baru tidak sering beroperasi dan menciptakan kesulitan keuangan bagi perusahaan utilitas yang didukung negara.
Pada Januari, India telah mengalami lonjakan produksi listrik tenaga batubara karena meningkatnya permintaan di musim dingin dan penurunan produksi tenaga air.
Baca Juga: Tambang Pongkor Masih Jadi Andalan Bagi Kinerja Antam (ANTM) 2026, Cek Strategi Baru
“Meskipun masih banyak tantangan yang tersisa, penurunan produksi listrik tenaga batubara mereka menandai momen bersejarah, yang dapat membantu mencapai puncak emisi global,” kata Myllyvirta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













