Reporter: Genta Disa | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Industri Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition (MICE) Indonesia diproyeksikan cerah pada kuartal IV-2026. Pertumbuhan pariwisata nasional dan peluang menjadi destinasi acara bisnis regional maupun global menjadi penopang industri ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata, Hafiz Agung Rifai mengatakan, prospek industri MICE Indonesia didukung pertumbuhan pariwisata nasional dan meningkatnya peluang penyelenggaraan acara bisnis internasional.
“Prospek bisnis MICE Indonesia sangat cerah seiring dengan pertumbuhan pariwisata nasional dan meningkatnya peluang Indonesia sebagai destinasi business events regional maupun global,” ujar Hafiz dalam keterangan resminya, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Pariwisata, pada Januari-Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 10,58 juta kunjungan atau naik 5,38% secara tahunan (YoY). Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 842,15 juta perjalanan atau tumbuh 4,29% (YoY).
Baca Juga: Keamanan Internet Menjadi Sorotan, Perlu Penguatan Tata Kelola Domain
Kementerian Pariwisata juga mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan rata-rata pengeluaran wisman pada 2025 mencapai sekitar US$ 1.267 per kunjungan, terutama untuk akomodasi, makanan dan minuman, serta belanja.
Dari sisi nilai pasar, Hafiz menyampaikan, IECA/ASPERAPI memproyeksikan industri MICE Indonesia pada 2026 mencapai US$ 2,5 miliar-US$ 3,2 miliar. Angka tersebut menunjukkan potensi MICE dalam mendorong perputaran ekonomi dan membuka peluang investasi serta usaha.
Memasuki 2027, industri MICE global diproyeksikan terus tumbuh. Hafiz menyampaikan, nilai pasar MICE global diperkirakan mencapai US$ 1,30 triliun pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 7,82%.
“Berdasarkan proyeksi tersebut, nilai pasar pada 2027 diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,07 triliun. Asia Pasifik diprediksi menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat, membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi MICE internasional,” jelasnya.
Baca Juga: Target Produksi Nikel 2026 Turun, Potensi Defisit Pasokan Smelter Disorot
Adapun segmen yang berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan hingga 2030 meliputi pameran dagang, teknologi penyelenggaraan acara, serta media dan hiburan. Ketiganya diproyeksikan mencatat CAGR masing-masing sebesar 9,07%, 10,22%, dan 9,52%.
“Pertemuan korporasi, konferensi internasional, dan perjalanan insentif juga tetap menjadi pasar strategis,” ujarnya.
Untuk menangkap peluang tersebut, Kementerian Pariwisata mengarahkan pengembangan industri MICE pada peningkatan daya tarik konferensi dan pameran internasional, penguatan promosi dan bidding, serta peningkatan kualitas infrastruktur dan konektivitas destinasi.
“Integrasi MICE dengan produk pariwisata diharapkan meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan, sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi destinasi dan masyarakat lokal,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














