Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan target produksi bijih nikel sebesar 290 juta ton usai revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.
Target tersebut lebih tinggi dari estimasi awal tahun ini yang dipatok di kisaran 250 juta ton - 270 juta ton, tetapi juga lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025 yang sebesar 320 juta ton.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar menilai, target produksi pemerintah tersebut belum sebanding dengan peningkatan kebutuhan bahan baku smelter domestik saat ini.
Baca Juga: Apartemen Tower Barberry di Sky House Alam Sutera+ Mulai Serah Terima
"Kebutuhannya di 2026 diperkirakan sekitar 320 juta ton tetapi sebenarnya lebih, bisa sampai 350 juta ton jika smelter bisa operasi dengan maksimal. Kalo dibandingkan 2025 kebutuhan sekitar 300 juta ton. Jadi kalau pemerintah merilis target produksi 290 juta ton, berarti kan ada kesenjangan pasokan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (22/10/2026).
Bisman menuturkan, guna mengantisipasi defisit bijih nikel di pasaran, pengelola fasilitas smelter perlu melakukan mitigasi untuk menjaga keberlangsungan operasionalnya dengan memperkuat kontrak pembelian bahan baku serta membuka peluang pembelian bahan baku mineral nikel dari luar negeri secara terukur.
"Untuk mengamankan pasokan smelter perlu mengamankan kontrak pasokan jangka panjang dengan penambang domestik, mengoptimalkan stok, dan menyesuaikan jadwal produksi. Termasuk dimungkinkan juga buka opsi impor dari Filipina yang penting harganya kompetitif," tuturnya.
Bisman mengungkapkan, pembelian bijih nikel dari Filipina diproyeksikan bakal menjadi salah satu jalan keluar demi menutupi kekurangan pasokan domestik tersebut.
Baca Juga: Pasokan HGBT Tertahan, Industri Terancam Gelombang PHK dan Relokasi Investasi
"Proyeksi impor bijih nikel dari Filipina bisa sampai sekitar 20 juta ton," ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menambahkan, keterbatasan pasokan bijih nikel diprediksi berdampak langsung pada tingkat penggunaan kapasitas terpasang (utilisasi) hingga volume output pengolahan mineral di dalam negeri.
"Dampaknya terhadap utilisasi cukup terasa, dengan produksi bijih 290 juta ton tentu akan menekan utilisasi smelter, terutama jika stok tidak mencukupi dan impor tidak bisa maksimal. Dampaknya ya penurunan produksi FeNi/NPI, nickel matte, maupun MHP," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














