Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai kembalinya Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke zona ekspansi pada Mei 2026 mencerminkan ketahanan industri nasional dalam menghadapi ketidakpastian global dan gangguan pasokan bahan baku.
Data S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 berada di level 50,0, naik dari 49,1 pada April 2026. Capaian tersebut menandakan kondisi operasional sektor manufaktur kembali berada di ambang ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kenaikan PMI tersebut tidak terlepas dari langkah antisipatif pelaku industri yang memperkuat persediaan bahan baku untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Baca Juga: Kadin DKI: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Namun Risiko Global Masih Membayangi
“Peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencerminkan respons industri dalam menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika global yang masih berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku guna memastikan kegiatan produksi tetap berjalan dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Selasa (2/6/2026).
Menurut Politikus Golkar itu, kenaikan PMI perlu dilihat secara komprehensif. Salah satu faktor yang mendorong perbaikan indeks manufaktur adalah meningkatnya persediaan bahan baku yang dilakukan industri sebagai upaya mitigasi terhadap potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan baku impor.
Ia menjelaskan struktur impor Indonesia saat ini masih didominasi bahan baku dan bahan penolong dengan porsi sekitar 70%. Adapun sekitar 15% impor merupakan barang modal seperti mesin dan peralatan, sementara sisanya merupakan barang konsumsi.
Dengan masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor, industri memilih memperbesar stok guna menjaga kesinambungan operasi di tengah tantangan logistik global dan meningkatnya ketidakpastian akses bahan baku.
Agus mengungkapkan jika sebelumnya rata-rata industri menyimpan persediaan bahan baku untuk kebutuhan sekitar tiga bulan, kini banyak perusahaan meningkatkan cadangannya hingga cukup untuk menopang operasional selama enam bulan.
Menurutnya, strategi tersebut menjadi penting terutama bagi industri yang memiliki karakteristik produksi berkelanjutan atau continuous process industry.
Sebagai contoh, industri petrokimia harus tetap beroperasi pada kapasitas minimal 50% hingga 60% agar fasilitas produksi tidak perlu dihentikan sepenuhnya. Jika pabrik berhenti total, proses untuk kembali mencapai kapasitas normal membutuhkan waktu yang cukup panjang.
“Kondisi serupa juga terjadi pada industri yang menggunakan furnace seperti industri keramik, kaca, dan pengolahan nikel. Oleh karena itu, menjaga ketersediaan bahan baku menjadi sangat krusial,” katanya.
Selain untuk mengantisipasi gangguan pasokan, penambahan stok bahan baku juga dilakukan sebagai langkah menghadapi potensi kenaikan harga bahan baku ke depan. Agus menilai pelaku industri tidak dapat secara langsung menyesuaikan harga jual produknya ketika biaya produksi meningkat.
“Perusahaan manufaktur harus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan produksi dan daya saing harga produk. Ketika harga bahan baku berpotensi meningkat, mereka memilih mengamankan pasokan terlebih dahulu karena penyesuaian harga jual ke pasar tidak bisa dilakukan secara instan,” ujarnya.
Kemenperin juga mencatat perbaikan PMI manufaktur berjalan seiring dengan peningkatan Indeks Kepercayaan Industri (IKI). Pada Mei 2026, IKI mencapai 53,56, naik dari 51,75 pada April 2026.
Menurut Agus, kenaikan PMI dan IKI secara bersamaan menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur nasional masih memiliki daya tahan yang cukup kuat di tengah tekanan eksternal.
“Pergerakan PMI dan IKI yang sama-sama meningkat pada Mei 2026 menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur nasional masih memiliki resiliensi yang kuat. Industri tetap menjaga aktivitas produksinya sekaligus mengantisipasi berbagai risiko yang berasal dari faktor eksternal,” tutupnya.
Baca Juga: Lion Group Andalkan BookCabin Travel Fair untuk Dongkrak Permintaan Perjalanan Wisata
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













