kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   -25.000   -0,89%
  • USD/IDR 17.847   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Kadin DKI: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Namun Risiko Global Masih Membayangi


Selasa, 02 Juni 2026 / 19:54 WIB
Kadin DKI: PMI Manufaktur Kembali Ekspansif, Namun Risiko Global Masih Membayangi
ILUSTRASI. Ketua Umum KADIN DKI, Diana Dewi (KADIN DKI/dok)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta menyambut positif kembalinya aktivitas manufaktur Indonesia ke zona ekspansi pada Mei 2026.

Meski demikian, dunia usaha mengingatkan bahwa perbaikan tersebut masih berada pada tahap awal sehingga perlu dicermati keberlanjutannya di tengah ketidakpastian global.

Berdasarkan data S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik menjadi 50,0 dari 49,1 pada April 2026. Kenaikan tersebut menandai berakhirnya kontraksi yang terjadi pada bulan sebelumnya.

Ketua Umum Kadin DKI Jakarta, Diana Dewi mengatakan kenaikan PMI menunjukkan tekanan penurunan aktivitas pabrik mulai mereda dan permintaan baru mulai membaik.

"Kami menyambut baik kenaikan PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2026 menjadi 50 dari sebelumnya 49,1. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan penurunan aktivitas pabrik telah mereda dan permintaan baru mulai membaik," ujarnya kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Namun, Diana mengingatkan level PMI yang berada tepat di angka 50 belum menunjukkan ekspansi yang kuat. Menurutnya, angka tersebut masih mencerminkan kondisi netral karena sektor manufaktur baru berhenti menyusut dan belum benar-benar tumbuh signifikan.

Baca Juga: PMI Manufaktur Turun, Kadin Minta Kebijakan Lebih Pro-Industri

"PMI 50,0 merupakan kondisi netral atau stabil. Artinya, sektor manufaktur Indonesia tidak mengalami ekspansi maupun kontraksi dan masih berada di ambang ekspansif," katanya.

Kadin DKI menilai perkembangan beberapa bulan ke depan perlu dicermati lebih lanjut, terutama karena kondisi geopolitik global masih belum sepenuhnya kondusif.

Menurut Diana, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah berpotensi memberikan tekanan terhadap industri manufaktur, baik melalui kenaikan harga bahan baku maupun gangguan ketersediaan pasokan.

"Konflik di Timur Tengah masih membayangi industri manufaktur, baik dari sisi bahan baku yang harganya mengalami kenaikan maupun ketersediaan stok. Hal tersebut tentu akan mempengaruhi volume produksi," jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Kadin DKI melihat adanya sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan aktivitas industri. Salah satunya tercermin dari kenaikan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang pada Mei 2026 mencapai 53,56, naik dari 51,75 pada April 2026.

Menurut Diana, peningkatan IKI mengindikasikan optimisme pelaku industri terhadap kondisi ekonomi nasional yang masih relatif terjaga.

Ia menambahkan, kenaikan order dan tingkat utilisasi pabrik pada Mei turut ditopang oleh keputusan pemerintah menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kebijakan tersebut dinilai membantu menjaga stabilitas biaya produksi di tengah tekanan global.

Baca Juga: PMI Manufaktur Kembali Kontraksi, Industri Dibayangi Tekanan Global

Selain itu, permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga terhadap produk manufaktur, masih menjadi penopang utama pertumbuhan industri.

"Salah satu penyebabnya adalah keputusan pemerintah untuk menahan harga BBM bersubsidi yang dinilai berhasil menjaga stabilitas biaya produksi. Baik industri yang berorientasi ekspor maupun pasar domestik sama-sama merasakan peningkatan order dan optimisme ekspansi," ujarnya.

Kadin DKI berharap tren perbaikan PMI dapat berlanjut pada bulan-bulan mendatang. Jika kenaikan PMI diikuti peningkatan pesanan baru secara konsisten, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal kembalinya sektor manufaktur ke fase ekspansi yang lebih kuat.

"Kami berharap tren kenaikan ini berlanjut. Jika diiringi peningkatan pesanan baru, ini bisa menjadi sinyal awal sektor manufaktur kembali berekspansi," kata Diana.

Meski demikian, Kadin DKI menegaskan keberlanjutan pemulihan industri tetap akan sangat dipengaruhi perkembangan faktor eksternal, termasuk kondisi geopolitik global dan stabilitas pasokan bahan baku.

"Kadin DKI Jakarta mendukung penuh upaya pemerintah dalam meningkatkan PMI sektor manufaktur, meski tentu tidak bisa diabaikan faktor-faktor eksternal yang bisa menjadi penghalang," tutupnya.

Baca Juga: PMI Manufaktur Turun ke 49,1, Kadin Dorong Stimulus untuk Industri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×