Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kanker masih menjadi salah satu tantangan kesehatan bagi masyarakat Indonesia. Global Cancer Observatory (Globocan) pada 2022 mencatat, terdapat lebih dari 408.000 kasus baru kanker dan lebih dari 242.000 kematian akibat kanker di Indonesia.
Kanker payudara dan kanker paru menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan, total lebih dari 104.000 kasus gabungan setiap tahun. Kondisi ini diperparah dengan lebih dari 70% pasien kanker di Indonesia yang terdiagnosis pada stadium lanjut. Sehingga penanganan menjadi lebih kompleks, kurang efektif, serta memerlukan biaya yang lebih tinggi.
Di tengah angka yang terus meningkat tersebut, Indonesia masih menghadapi kesenjangan signifikan dalam infrastruktur dan sumber daya manusia di bidang onkologi. Sebagai gambaran, kurang dari 80 fasilitas radioterapi harus melayani lebih dari 275 juta penduduk.
Kondisi ini jauh di bawah standar yang direkomendasikan oleh International Atomic Energy Agency, yaitu satu mesin untuk setiap 250.000 penduduk.
Selain itu, jumlah dokter spesialis onkologi radiasi masih sangat terbatas. Hanya 135 dokter yang tersebar di seluruh Indonesia. Layanan inimasih terpusat di Pulau Jawa. Sehingga banyak wilayah lain belum memiliki akses yang memadai terhadap layanan kanker.
Menjawab tantangan tersebut, MRCCC Siloam Semanggi menggandeng The University of Texas MD Anderson Cancer Center (UT MD Anderson) memberikan panduan strategis (advisory) dan klinis. Upaya ini untuk meningkatkan kualitas layanan kanker MRCCC Siloam Semanggi. Kolaborasi ini berlangsung dari Januari 2026 hingga Januari 2027.
UT MD Anderson akan memberikan panduan terstruktur di berbagai aspek. Termasuk operasional klinis, pengembangan layanan multidisiplin, sistem navigasi pasien, penjaminan mutu, perencanaan infrastruktur, serta pengembangan sumber daya manusia.
Kerjasama advisory ini juga akan mendukung MRCCC Siloam Semanggi mengembangkan program kanker payudara dan kanker paru yang komprehensif. Mencakup deteksi dini, diagnosis, koordinasi terapi, layanan survivorship, serta sistem dukungan pasien.
Baca Juga: Kalbe Farma (KLBF) Luncurkan Fasilitas Deteksi Dini Kanker Kedua di Jawa Timur
Direktur Eksekutif MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan menekankan urgensi kolaborasi ini. Menurutnya, layanan kanker di Indonesia masih memiliki banyak aspek yang dapat ditingkatkan.
"Kami berharap pengalaman serta keahlian klinis mendalam dari UT MD Anderson dalam mendukung misi kami untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan harapan nyata bagi pasien yang membutuhkan,” kata Edy, dalam rilis, Selasa (31/3).
UT MD Anderson merupakan salah satu pusat kanker di dunia yang berfokus pada pelayanan pasien, penelitian, pendidikan, dan pencegahan kanker. Institusi ini memiliki misi utama untuk memberikan solusi kanker terbaik bagi pasien dan keluarganya.
Dengan mengintegrasikan panduan strategis dari UT MD Anderson serta pemahaman mendalam terhadap tantangan sistem kesehatan di Indonesia, MRCCC Siloam Semanggi berupaya membentuk masa depan layanan kanker yang lebih baik dan memperluas akses terhadap layanan berkualitas tinggi bagi lebih banyak pasien, di mana pun mereka berada.
Sebagai bagian implementasi kerjasama ini, MRCCC Siloam Semanggi akan memperkuat model layanan kanker terintegrasi melalui pengembangan pendekatan multidisciplinary team (MDT)/ Ini merupakan salah satu pilar utama dalam praktik onkologi modern.
Pendekatan MDT melibatkan kolaborasi dokter dari berbagai disiplin, termasuk bedah onkologi, onkologi medik, onkologi radiasi, radiologi, dan patologi. Pendekatan ini bersama-sama mengevaluasi kondisi pasien dan menyusun rencana perawatan yang lebih komprehensif dan personal.
Melalui diskusi klinis yang terkoordinasi dan pengambilan keputusan bersama, pendekatan MDT dapat meningkatkan koordinasi layanan, mempercepat pengambilan keputusan klinis, serta memastikan pasien mendapatkan terapi yang paling tepat berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi individualnya.
Sebaliknya, pengambilan keputusan yang tidak terintegrasi berpotensi menyebabkan keterlambatan terapi serta rekomendasi pengobatan yang tidak konsisten.
Inisiatif ini juga mencakup penguatan hospital based cancer registry (HBCR) yang berperan penting dalam pemantauan hasil pengobatan, peningkatan mutu layanan, serta mendukung penelitian dan perencanaan layanan kesehatan berbasis data.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













