kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

JP Morgan Ungkap Lima Faktor Pendorong Pemulihan Properti Global 2026


Sabtu, 16 Mei 2026 / 21:27 WIB
JP Morgan Ungkap Lima Faktor Pendorong Pemulihan Properti Global 2026
ILUSTRASI. Pasokan Ruang Perkantoran di CBD Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID. Pasar properti komersial global atau commercial real estate (CRE) diproyeksikan memasuki fase pemulihan baru pada 2026 setelah sempat tertekan selama beberapa tahun terakhir akibat lonjakan suku bunga global dan tingginya biaya pendanaan.

Dalam laporan Alternative Investments Outlook 2026, JPMorgan Chase & Co. yang dikutip pada Sabtu (16/5/2026) menyebut, pemulihan sektor properti global mulai terlihat seiring normalisasi pasar modal, penurunan suku bunga, serta kembali meningkatnya permintaan terhadap aset properti berkualitas tinggi.

Baca Juga: Industri Hiburan Masuk Era AI dan Blockchain, SHOW Bidik Creator Economy

JP Morgan menilai selama beberapa tahun terakhir pasar properti mengalami dislokasi yang cukup tajam.

Dalam periode tersebut, instrumen utang justru memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan ekuitas properti, kondisi yang dinilai tidak lazim dalam struktur investasi real estat.

Akibat tekanan suku bunga tinggi, valuasi properti komersial turun di banyak negara, sementara aktivitas transaksi dan penghimpunan dana melambat signifikan.

Meski demikian, aset properti premium di lokasi dengan permintaan tinggi dan pasokan terbatas dinilai tetap mampu bertahan dan mencatat pertumbuhan pendapatan yang solid.

Baca Juga: Kemendag Tetapkan HPE Emas Turun 1,72% Periode Kedua Mei 2026

Lima Faktor Pendorong Pemulihan Properti Global

JP Morgan memproyeksikan pemulihan properti global akan semakin kuat pada 2026 dengan didorong lima faktor utama.

Pertama, valuasi properti saat ini masih relatif murah dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19. Di saat yang sama, pertumbuhan pendapatan sewa tetap positif, terutama untuk aset berkualitas tinggi.

Kedua, ekspektasi penurunan suku bunga global diperkirakan akan mendorong aktivitas transaksi dan pembiayaan properti. JP Morgan memperkirakan Federal Reserve dan European Central Bank mulai memangkas suku bunga hingga pertengahan 2026.

Baca Juga: Tingkatkan Layanan, IPC Terminal Petikemas Panjang Perbesar Kapasitas Bongkar Muat

Ketiga, kebijakan fiskal dan moneter yang lebih akomodatif diproyeksikan menopang permintaan properti. Stimulus ekonomi di Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia Pasifik dinilai mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan menekan risiko resesi global.

Keempat, biaya pembangunan yang tinggi serta aturan zonasi yang ketat membuat pasokan properti baru semakin terbatas. Kondisi ini dinilai akan mendukung kenaikan harga sewa dan meningkatkan nilai aset eksisting.

Kelima, JP Morgan melihat prospek jangka panjang sektor properti global masih menarik karena didukung kombinasi pertumbuhan permintaan dan keterbatasan suplai di berbagai negara.

Baca Juga: Mendorong Efisiensi Bisnis, Pelaku UMKM Mulai Mengandalkan Kecerdasan Buatan

Sektor Industri dan Logistik Jadi Primadona

Dalam laporan tersebut, sektor industri dan logistik diprediksi menjadi salah satu segmen paling menarik dalam beberapa tahun ke depan.

Tren relokasi manufaktur, meningkatnya kebutuhan pusat data, pengembangan kecerdasan buatan (AI), serta upaya banyak negara memperkuat rantai pasok domestik menjadi pendorong utama permintaan properti industri.

Di Amerika Serikat, kebutuhan ruang manufaktur berteknologi tinggi meningkat pesat, terutama untuk sektor semikonduktor, baterai, farmasi, robotik, hingga pusat data AI.

JP Morgan mencatat properti industri dengan kapasitas listrik tinggi menghasilkan imbal hasil jauh lebih besar dibandingkan gudang konvensional.

Fenomena serupa juga terjadi di Eropa dan Asia Pasifik. Banyak negara mulai mempercepat pembangunan infrastruktur industri untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

Baca Juga: Polytron Mencatat Lonjakan Penjualan, Optimistis Pasar Motor Listrik Kian Tumbuh

Krisis Hunian Dorong Prospek Properti Residensial

Selain sektor industri, properti residensial juga diperkirakan tetap prospektif akibat krisis kekurangan pasokan rumah di banyak negara.

JP Morgan mencatat harga rumah yang terus naik membuat generasi muda semakin sulit membeli rumah, sehingga permintaan sewa meningkat tajam.

Di Amerika Serikat misalnya, kekurangan pasokan rumah diperkirakan mencapai 4,7 juta unit. Sementara di Eropa, pembangunan hunian baru masih jauh di bawah kebutuhan pasar.

Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan sektor hunian sewa seperti apartemen multifamily, single-family rental, hingga student housing atau PBSA (purpose-built student accommodation).

Di Asia Pasifik, permintaan hunian sewa juga terus meningkat, terutama di Jepang, Australia, Singapura, dan Korea Selatan seiring tingginya harga rumah dan perubahan gaya hidup masyarakat urban.

Baca Juga: Komdigi Segera Berlakukan PP Tunas, Delapan Platform Ini Masuk Risiko Tinggi

Sektor Ritel Mulai Bangkit

JP Morgan juga melihat sektor ritel mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat tertekan pertumbuhan e-commerce selama bertahun-tahun.

Saat ini, pusat perbelanjaan premium dan retail berbasis kebutuhan harian kembali mencatat peningkatan okupansi dan pertumbuhan sewa.

Konsep omnichannel turut menjadi pendorong baru karena toko fisik kini juga difungsikan sebagai pusat distribusi dan pengambilan pesanan online.

Di Amerika Serikat, tingkat kekosongan pusat ritel mendekati level terendah historis, sementara pembangunan pusat ritel baru masih sangat terbatas.

Baca Juga: Tiket Pesawat Berpotensi Naik, Bisnis Pariwisata Hadapi Risiko Perlambatan

Perkantoran Premium Kembali Diminati

Sektor perkantoran juga mulai pulih, terutama untuk gedung premium di kawasan pusat bisnis utama.

Banyak perusahaan global mulai kembali menerapkan kebijakan kerja dari kantor sehingga permintaan ruang kantor berkualitas meningkat.

JP Morgan menilai gedung dengan fasilitas modern, lokasi strategis, dan standar ESG yang baik akan menjadi pemenang dalam siklus pemulihan berikutnya.

Sementara itu, gedung perkantoran lama dengan fasilitas terbatas diperkirakan akan menghadapi tekanan lebih besar karena tingginya biaya renovasi dan perubahan preferensi penyewa.

Secara keseluruhan, JP Morgan memproyeksikan sektor properti global memasuki fase baru pertumbuhan setelah melewati tekanan suku bunga tinggi selama tiga tahun terakhir.

Namun, perusahaan menekankan bahwa keberhasilan investasi ke depan akan sangat ditentukan oleh kualitas aset, lokasi strategis, serta kemampuan pengelolaan properti secara aktif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×