kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.143   46,00   0,25%
  • IDX 5.375   -63,95   -1,18%
  • KOMPAS100 695   -7,62   -1,08%
  • LQ45 540   -6,93   -1,27%
  • ISSI 184   -2,05   -1,10%
  • IDX30 302   -3,97   -1,30%
  • IDXHIDIV20 398   -4,90   -1,22%
  • IDX80 80   -0,82   -1,02%
  • IDXV30 111   -1,45   -1,29%
  • IDXQ30 101   -1,13   -1,11%

Kimia Farma (KAEF) Bidik Peluang Bisnis dari Manufaktur Kontrak Farmasi


Senin, 26 Oktober 2026 / 10:28 WIB
Kimia Farma (KAEF) Bidik Peluang Bisnis dari Manufaktur Kontrak Farmasi
ILUSTRASI. Kimia Farma (KAEF) memperluas peluang kemitraan di industri farmasi melalui layanan Contract Manufacturing Organization (CMO) (DOK/kimia farma)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) memperluas peluang kemitraan di industri farmasi melalui layanan Contract Manufacturing Organization (CMO) atau manufaktur kontrak. Layanan ini dijalankan melalui unit Toll Manufacturing Kimia Farma bersama dua anak usahanya, yakni PT Sinkona Indah Lestari (SIL) dan PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP).

Perusahaan  memperkenalkan  lini manufaktur kontrak tersebut melalui ajang Indonesia Pharmaceutical Expo (IPEX) 2026 yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Head of Toll Manufacturing Kimia Farma Hendro Tri Pancoro mengatakan, langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan kapabilitas dan infrastruktur produksi sekaligus memperluas kemitraan strategis dengan pelaku industri kesehatan di dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Indonesia Kendaraan (IPCC) Catat Laba Bersih Rp 177,18 Miliar Hingga September 2026

“Melalui IPEX 2026, kami memperkenalkan kapabilitas manufaktur Kimia Farma sebagai pilihan solusi bagi mitra, mulai dari sediaan injeksi steril dan softgel hingga produk dengan persyaratan perizinan khusus. Kami membuka peluang kolaborasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan tahapan pengembangan produk masing-masing mitra,” ujar Hendro, Senin (26/10/2026). 

Kimia Farma mengandalkan fasilitas produksi di Jakarta, Banjaran (Bandung), dan Watudakon (Jombang). Ketiga lokasi tersebut memiliki total 24 lini produksi dengan kapasitas terencana hingga 4,18 miliar unit per tahun.

Kapabilitas manufaktur perusahaan mencakup lini injeksi steril di Jakarta dengan kapasitas hingga 21,78 juta ampul per tahun. Kimia Farma juga memiliki fasilitas dengan izin khusus untuk memproduksi narkotika, psikotropika, dan prekursor farmasi.

Selain sediaan padat dan cair, KAEF juga memiliki kemampuan memproduksi softgel, supositoria, serta produk herbal dan suplemen dalam bentuk kapsul, tablet salut, dan granul dalam kemasan sachet. 

“Kami juga berpengalaman memproduksi obat antiretroviral (ARV) dan obat antituberkulosis (OAT), termasuk kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination/FDC), untuk mendukung kebutuhan program kesehatan,” ucapnya. 

Untuk menjangkau kebutuhan mitra yang beragam, Kimia Farma menawarkan tiga skema kerja sama, yakni original equipment manufacturer ((OEM)/original design manufacturer (ODM), jasa produksi atau toll manufacturing, serta jasa teknis.

Baca Juga: Digitalisasi Operasional Menjadi Kunci Efisiensi Bisnis UMKM

Melalui skema OEM/ODM, mitra dapat memanfaatkan produk yang dikembangkan berdasarkan dossier dan izin edar Kimia Farma untuk dipasarkan menggunakan merek mitra sesuai ketentuan yang berlaku. Estimasi waktu menuju komersialisasi melalui skema ini berkisar 6–12 bulan, bergantung pada kesiapan produk dan persyaratan yang harus dipenuhi.

Sementara itu, layanan toll manufacturing ditujukan bagi mitra yang ingin memproduksi formula atau produk miliknya melalui fasilitas Kimia Farma. Prosesnya mencakup transfer proses, validasi, dan pengujian stabilitas sesuai kebutuhan serta persyaratan regulasi, dengan estimasi waktu menuju produksi komersial selama 12 bulan–18 bulan.

Adapun, jasa teknis mencakup pengembangan formulasi, transfer teknologi, pengujian stabilitas, dukungan registrasi dan penyusunan dossier izin edar, serta reservasi kapasitas produksi. Layanan ini dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan mitra.

“Kami menyesuaikan model kerja sama dengan kebutuhan dan kesiapan setiap mitra. Melalui skema OEM/ODM, mitra dapat menjajaki peluang pengembangan produk menggunakan merek sendiri. Sementara itu, bagi perusahaan yang telah memiliki formula dan membutuhkan dukungan fasilitas produksi, layanan Toll Manufacturing dapat menjadi pilihan,” terang Hendro. 

 

Dalam menjalankan layanan tersebut, Kimia Farma mengusung prinsip High Quality, Reliable Supply, dan Sustainable Growth dengan mengacu pada ketentuan serta pengawasan regulator terkait, termasuk Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Fasilitas produksinya juga didukung sertifikasi halal, ISO 9001:2015 untuk sistem manajemen mutu, ISO 14001 untuk sistem manajemen lingkungan, ISO 37001:2016 untuk sistem manajemen anti-penyuapan, serta keikutsertaan dalam penilaian kinerja lingkungan PROPER.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×