Reporter: Vina Elvira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berhasil membalikkan kinerja pada semester I-2026 dengan membukukan laba bersih unaudited Rp 54,07 miliar, setelah pada periode yang sama tahun lalu masih mencatat rugi Rp 135,61 miliar.
Perbaikan ini ditopang pertumbuhan penjualan, efisiensi beban usaha, serta transformasi bisnis yang terus dijalankan perseroan.
Penjualan neto KAEF pada semester I-2026 mencapai Rp 4,70 triliun, tumbuh 7,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,36 triliun.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Berhasil Balik Rugi Jadi Laba pada Semester I-2026
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam mengatakan, perbaikan kinerja tersebut mencerminkan penguatan fundamental bisnis yang dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut dia, hasil positif pada paruh pertama tahun ini juga menunjukkan proses transformasi Kimia Farma mulai berjalan ke arah yang lebih sehat dan terukur. "Bisnis yang semakin sehat," ujar Djagad dalam keterangan yang disampaikan Rabu (5/8/2026).
Meski membaik, kinerja KAEF masih menghadapi tekanan pada kuartal II-2026. Dinamika geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga bahan baku dan bahan kemas, yang sebagian masih bergantung pada impor.
Untuk meredam dampak kenaikan biaya tersebut, Kimia Farma melanjutkan program efisiensi, memperketat pengendalian biaya, serta melakukan penyesuaian harga secara terukur terhadap sejumlah produk.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan, kualitas produk, sekaligus mempertahankan margin perusahaan.
Efisiensi tersebut terlihat dari penurunan rasio beban usaha terhadap penjualan. Pada semester I-2026, rasio tersebut turun menjadi 33,2% dari 34,2% pada semester I-2025.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Genjot Produk Obat Kronis & Suplemen untuk Dukung Pertumbuhan 2026
Di sisi transformasi bisnis, KAEF menjalankan enam fokus utama, yakni memperkuat ketahanan modal kerja, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM), mempercepat digitalisasi proses bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat tata kelola perusahaan atau good corporate governance (GCG), serta memperkuat sinergi antarentitas di dalam Kimia Farma Group.
Perseroan juga memperkuat bisnis dari sisi hulu untuk meningkatkan kemandirian bahan baku obat (BBO) nasional.
Kimia Farma mengoptimalkan fasilitas produksi obat di Jakarta dan Banjaran yang menjadi backbone produksi 50 produk utama, termasuk obat esensial.
Penguatan rantai pasok juga dilakukan melalui Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) dan PT Sinkona Indonesia Lestari. Kedua entitas tersebut berperan dalam pengembangan dan penyediaan BBO lokal.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Kejar Kinerja Naik High Single Digit di 2026, Ini Strateginya
Saat ini, KFSP telah memiliki 19 BBO yang telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dengan perbaikan profitabilitas dan efisiensi yang berjalan beriringan dengan penguatan produksi serta bahan baku, KAEF berupaya menjaga kesinambungan pertumbuhan sekaligus memperkuat kapasitasnya dalam mendukung ketersediaan obat dan layanan kesehatan nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
