Reporter: Dimas Andi, Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar US$123,90 juta untuk tahun buku 2025, seiring kinerja keuangan dan operasional yang solid sepanjang tahun lalu.
Keputusan ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 21 April 2026.
Nilai dividen tersebut setara Rp49,4423 per saham. Pembagian dividen mengacu pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$137,70 juta per 31 Desember 2025.
"Data keuangan per 31 Desember 2025 yang mendasari pembagian dividen adalah laba bersih sebesar US$137,70 juta," ujar Corporate Secretary PGEO, Kitty Andora Kitty Andora dalam keterbukaan informasi, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) dan PLN IP Sepakati Tarif Listrik PLTP Lahendong 15 MW
Adapun jadwal pembagian dividen meliputi cum dividen pasar reguler dan negosiasi pada 30 April 2026, ex dividen pada 4 Mei 2026, cum dividen pasar tunai pada 5 Mei 2026, ex dividen pada 6 Mei 2026, dengan recording date pada 5 Mei 2026 dan pembayaran dividen dijadwalkan pada 22 Mei 2026.
Sepanjang 2025, PGEO mencatat pendapatan US$ 432,73 juta dan laba bersih US$137,67 juta, sekaligus membukukan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah. Produksi listrik mencapai 5.095,48 GWh, naik 5,55% dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2.
Pengamat energi sekaligus Member of the Supervisory Board Rumah Energi, Elrika Hamdi, menilai kinerja tersebut mencerminkan prospek kuat bisnis panas bumi di tengah transisi energi.
"Kinerja yang stabil menjadi sinyal positif bagi pasar dan penting untuk mendorong investasi baru," ujarnya dalam keterangannya.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Pastikan Listrik Aman Saat Idulfitri, Andalkan Panas Bumi
Menurut dia, energi panas bumi memiliki keunggulan berupa faktor kapasitas tinggi hingga sekitar 90% dan mampu beroperasi sepanjang waktu, sehingga menjadi salah satu sumber energi terbarukan paling stabil.
Namun, tantangan utama tetap berada pada tahap awal pengembangan, khususnya proses eksplorasi yang membutuhkan waktu panjang dan berisiko tinggi.
Elrika menambahkan, konsistensi PGEO dalam mengelola proyek turut memperkuat ekosistem energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri.
Kinerja ini dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76%, dengan kontribusi panas bumi sebesar 5,2 GW.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Mulai Tahap Lanjutan PLTP Lumut Balai Unit 3 55 MW
Dengan capaian tersebut, PGEO dinilai tidak hanya mencatatkan pertumbuhan bisnis, tetapi juga berkontribusi langsung dalam upaya penurunan emisi karbon nasional, sejalan dengan target penurunan emisi 31,89% pada 2030.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












