Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Konflik geopolitik di Venezuela berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dan transportasi di dalam negeri, seiring dengan naiknya harga minyak dunia dalam jangka pendek.
Dampak tersebut dinilai akan terasa terutama pada harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak mengatakan, operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela sempat memicu kenaikan harga minyak dunia sekitar US$ 2 per barel dari posisi sebelum peristiwa tersebut. Meski demikian, lonjakan harga itu dinilai tidak berlangsung lama.
Menurut Ishak, dampak konflik Venezuela terhadap pasar minyak global relatif terbatas karena produksi minyak negara tersebut kurang dari 1 juta barel per hari atau di bawah 1% dari total produksi minyak dunia. Di sisi lain, pasokan minyak global saat ini masih berada dalam kondisi surplus.
Baca Juga: Bappebti Catat Nilai Transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi Naik 49,8%
"Lagi pula kawasan tersebut tidak terlalu mempengaruhi jalur perdagangan migas global sebagaimana halnya Selat Hormuz," ujar Ishak kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, apabila transisi pemerintahan di Venezuela dapat berjalan lancar dan diikuti dengan peningkatan investasi di sektor hulu migas, tekanan terhadap harga minyak dunia justru berpotensi mereda seiring dengan peningkatan produksi.
Namun bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia, meskipun bersifat jangka pendek, tetap berisiko mengerek biaya logistik dan transportasi.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen, khususnya pada BBM nonsubsidi.
Selain itu, Ishak menilai kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Jika tekanan harga berlangsung berkepanjangan, dampaknya dapat merembet ke anggaran subsidi dan kompensasi BBM.
“Namun secara umum pengaruhnya masih moderat selama tidak terjadi eskalasi lanjutan, seperti meluasnya konflik ke negara lain atau gangguan produksi yang lebih besar di negara eksportir minyak lainnya,” kata Ishak.
Seperti diberitakan sebelumnya, Bloomberg melaporkan operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Operasi militer tersebut dilaporkan berlangsung kurang dari tiga jam dan melibatkan lebih dari 150 pesawat militer AS setelah sistem pertahanan udara Venezuela dilumpuhkan.
Baca Juga: Situasi Geopolitik Memanas, Pertamina Klaim Aset Migas di Venezuela Tak Terdampak
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi operasi tersebut pada Sabtu (3/1/2026) dan mengklaim menyaksikan langsung jalannya operasi melalui siaran langsung.
Di tengah eskalasi geopolitik tersebut, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memastikan aset dan kegiatan operasional perusahaan afiliasinya di Venezuela tetap berjalan aman.
Manager Relations PIEP Dhaneswari Retnowardhani mengatakan, PIEP merupakan pemegang saham mayoritas Maurel & Prom (M&P) dengan kepemilikan 71,09%. Salah satu aset yang dikelola M&P berada di Venezuela.
“Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf Maurel & Prom di Venezuela,” ujar Dhaneswari dalam keterangan resmi, Senin (5/1/2026).
Ia menambahkan, PIEP terus memantau perkembangan situasi secara cermat serta menjalin koordinasi berkelanjutan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas guna memastikan keselamatan personel dan keberlangsungan operasional aset hulu migas yang dikelola melalui Maurel & Prom di Venezuela.
Selanjutnya: Nadiem Didakwa Rugikan Negara Rp 2,1 Triliun dalam Kasus Pengadaan Chromebook
Menarik Dibaca: Promo HokBen Spesial Musim Hujan, Beli Hoka Ramen Gratis Bubur Hangat Khas Jepang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













