Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Krisis global pasokan chip memori yang dipicu oleh masifnya pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan bagi industri perangkat teknologi di tahun 2026.
Lonjakan permintaan terhadap komponen RAM dan NAND turut memberikan tekanan pada struktur biaya produksi produsen perangkat komputer dan laptop, termasuk PT Tera Data Indonusa Tbk (AXIO).
Corporate Secretary AXIO Luhur Budiman menjelaskan bahwa perseroan menyadari dinamika pasar chip memori global yang saat ini tengah terjadi. Menurutnya, peningkatan kebutuhan chip memori di tingkat global berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi apabila tidak dikelola secara cermat.
“Perlu dipahami bahwa masifnya pengembangan teknologi AI memang memicu lonjakan permintaan RAM dan NAND, namun AXIO memiliki keunggulan kompetitif yang unik karena kami memiliki ekosistem internal melalui lini bisnis memori Visipro,” ujar Luhur, kepada Kontan.co.id, Kamis (29/1).
Baca Juga: PTPP Garap Proyek Gedung Institusional Kejaksaan Agung Senilai Rp 934,36 Miliar
Ia menambahkan, dengan ekosistem internal tersebut, AXIO mampu menahan tekanan biaya produksi melalui efisiensi Demand Forecasting dan penerapan sistem Just-in-Time Production yang ketat. Selain itu, keberadaan fasilitas manufaktur terintegrasi di Jakarta Timur juga menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi operasional.
Fokus perseroan saat ini adalah memastikan bahwa prinsip Innovative Yet Affordable (IYA) tetap terjaga, sehingga fluktuasi biaya komponen di pasar global tidak langsung menghantam harga produksi secara drastis.
“Terutama karena kami didukung oleh fasilitas manufaktur terintegrasi di Jakarta Timur yang mengoptimalkan seluruh alur kerja kami,” jelasnya.
Terkait dampak terhadap harga jual, manajemen AXIO menegaskan bahwa hingga saat ini perseroan masih memprioritaskan keterjangkauan harga bagi konsumen domestik. Kenaikan biaya komponen global belum sepenuhnya dibebankan kepada pelanggan.
Strategi tersebut dinilai berhasil menjaga permintaan pasar tetap solid. Hal ini tercermin dari kinerja segmen ritel yang masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan.
“Melalui lini produk seperti Axioo Hype dan Pongo yang menawarkan value-to-performance terbaik, kami tetap mampu menjaga pertumbuhan volume penjualan karena konsumen Indonesia saat ini sudah sangat cerdas dalam memilih perangkat yang berkualitas namun tetap ramah di kantong,” ujarnya.
Untuk menjaga daya saing harga di tengah tekanan biaya komponen, AXIO mengandalkan strategi integrasi vertikal yang telah dibangun secara konsisten selama beberapa tahun terakhir.
Perseroan, lanjut dia, menerapkan sistem 5C Vertical Integration yang sangat efisien dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sistem tersebut mencakup penguasaan pada level Components melalui Visipro, manufaktur Computers dengan merek Axioo, penguatan Channels distribusi yang mencapai lebih dari 2.000 gerai, layanan Customer Care di 184 titik, hingga pengembangan sumber daya manusia melalui Class Program.
“Dengan integrasi vertikal ini, kami mampu memangkas biaya perantara, mengoptimalkan margin, dan menciptakan efisiensi operasional yang sangat tinggi, sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan konsumen benar-benar diinvestasikan pada teknologi yang mereka dapatkan,” pungkasnya.
Baca Juga: Jajaki Peluang, Alibaba Cloud, Huawei, hingga Ant International Akan ke Jakarta
Selanjutnya: Daya Beli Melemah, Premi Asuransi Kendaraan Turun 4,03% per November 2025
Menarik Dibaca: Harga Bitcoin Bergerak Liar, Investor Disarankan Berhati-hati
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












