kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Menanti eksplorasi oleh pemerintah, lelang WKP panas bumi baru dimulai pada 2023


Jumat, 15 Januari 2021 / 11:30 WIB
ILUSTRASI. Pipa panas bumi


Reporter: Filemon Agung | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan proses lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru dimulai pada 2023 mendatang.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari mengungkapkan pemunduran jadwal ini dikarenakan pemerintah akan melakukan eksplorasi terlebih dahulu.

"Karena (pemerintah) sudah punya program eksplorasi panas bumi, akan dilakukan oleh Badan Geologi jadi di 2023 baru lelang setelah pengeboran," kata Ida dalam gelaran Konferensi Pers, Kamis (14/1).

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana mengungkapkan, kegiatan eksplorasi oleh Badan Geologi bakal menggunakan anggaran APBN sekitar Rp 420 miliar untuk tiga lokasi.

Baca Juga: Investasi sektor EBTKE sepanjang tahun 2020 mencapai US$ 1,36 miliar

"Sekarang dalam proses pastikan titik, dan harus bangun jalan. Lokasinya di Cisolok, Sukabumi kemudian Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bittuang, Sulawesi Selatan," ungkap Dadan dalam kesempatan yang sama.

Dadan menambahkan, eksplorasi oleh Badan Geologi ditargetkan rampung pada tahun ini. Kendati menargetkan lelang WKP pada tahun 2023 namun jika hasil eksplorasi rampung tepat waktu maka KESDM mengharapkan proses lelang WKP hasil eksplorasi dapat dilakukan di 2022 nanti.

Pada saat bersamaan, Dadan mengharapkan di tahun depan proses eksplorasi oleh pemerintah dapat kembali dilakukan.

"Mungkin tahun depan bisa tiga atau empat tergantung hasil tahun ini dan dana pemerintah," pungkas Dadan.

Selanjutnya: Sepanjang 2020, neraca perdagangan mencatat surplus US$ 21,74 miliar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×