kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Meningkatnya minat staycation, dongkrak pertumbuhan bisnis hotel budget


Jumat, 25 Oktober 2019 / 16:19 WIB
Meningkatnya minat staycation, dongkrak pertumbuhan bisnis hotel budget
ILUSTRASI. kamar hotel airy rooms

Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setahun belakangan, trend liburan singkat dengan tinggal di penginapan saja atau yang dikenal dengan istilah staycation terus meningkat di kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial.

Google Trends mencatat, trend staycation mengalami peningkatan signifikan sejak Januari 2018 - Juni 2019, yakni sebesar 153%.

Manager Industri Google Indonesia, Zulfi Rahardian mengatakan Jakarta, Bandung, dan Bogor masih menjadi destinasi utama para wisatawan menghabiskan staycation. "Kata kuncinya, dekat, liburan singkat, dan mendadak," ujar Zulfi dalam acara Google Travel Insight 2019 di kantor Google Indonesia belum lama ini.

Baca Juga: Ciputra Group tawarkan kemudahan dalam pembelian The Newton 2

Ia lanjut menjelaskan, berdasarkan data Desember 2018, terjadi kenaikan pemesanan kamar hotel untuk liburan singkat mencapai 28%. Biasanya, model liburan singkat termasuk dalam kategori short stay atau menginap satu sampai dua malam saja.

"Disebut mendadak karena pemesanan kamar baru terjadi sekitar tiga hari sebelum menginap. Bahkan ada juga yang pesan sehari sebelum kedatangan. Itu pula yang membuat mereka cari tempat menginap yang dekat. Jadi, liburan akhir tahun enggak harus jauh," tutur Zulfi.

Trend tersebut bisa jadi peluang bagi bisnis-bisnis lokal untuk menggarapnya. Trend staycation tak hanya merambah kota besar atau yang disebut first tier city seperti yang disebutkan Google Trends.

Baca Juga: Mr. Jeff berencana hadirkan layanan gaya hidup lain di aplikasinya

Vice President Marketing Airy, Ika Paramita menjelaskan bahwa data internal Airy menunjukkan perkembangan trend staycation juga merambah ke daerah atau second tier city. Bahkan pertumbuhannya melebihi dari capaian di first tier city seperti Jakarta dan Bandung.

"Mungkin karena generasi milenial ini suka eksplore tempat-tempat baru dan buat mereka first tier city mulai mencapai jenuh ya. Jadi pertumbuhan di second tier city selama setahun terakhir cukup pesat," terang Ika.

Ia menyebutkan pertumbuhan pemesanan Airy rooms di beberapa second tier city mencapai double digit. Bahkan ada kota-kota tertentu yang pertumbuhannya mencapai triple digit atau ratusan persen.

Baca Juga: Chubb gandeng Airy hadirkan asuransi perjalanan

Google Trends juga mencatat munculnya second tier city untuk penelusuran destinasi domestik. Jakarta dan Bali memang menjadi top pencarian, namun Purwokerto, Padang, Banjarmasin, dan Cirebon juga muncul sebagai kota dengan popularitas yang paling meningkat selama setahun terakhir.

"Dari data kami, benar jika second tier city juga peminatnya meningkat. Ada tiga kota yang terlihat cukup menjanjikan, yaitu Bukit Tinggi, Samarinda, Balikpapan, dan Manado," tandas Ika. Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari perbaikan layanan yang dilakukan pemilik hotel-hotel budget.

Selama ini Airy fokus menggarap segmen hotel budget yang telah ada. Lewat renovasi bangunan dan perbaikan sistem manajemen, hotel-hotel mitra Airy dibuat menjadi lebih fresh dan kembali baru.

"Mungkin yang tadinya enggak berminat staycation, tapi saat melihat hotelnya sudah direnovasi, jadi berminat untuk menginap di hotel itu dan itu banyak terjadi pula di daerah," katanya.

Ika menyebut pergeseran minat traveler dari hotel-hotel branded ke hotel-hotel budget tak lepas dari pergeseran prioritas ketika bertualang. Para pemesan yang didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z menginginkan pengalaman yang lebih sehingga alokasi bujet untuk penginapan dihemat.





Close [X]
×