kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

MTDL&Grab: Apple dan Amazon adalah pemain dominan artificial intelligence


Senin, 15 Juli 2019 / 19:51 WIB


Reporter: Amalia Fitri | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menilai saat ini pemain bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih didominasi pelaku asal global. Fitur Siri dari perusahaan elektronik, Apple dan Amazon, adalah beberapa contohnya.

"Namun begitu, pemain di sisi domestik sudah banyak dan spesifik, misalnya di ranah financial technology atau fintech, khususnya dalam fitur P2P Lending. Sistem dari credit scoring, verifikasi, permohonan aplikasi pinjaman, semua sudah dilakukan melalui AI. Di Indonesia banyak sekali teknologi AI bekerja dalam ranah ini," jelas Direktur MTDL Randy Kartadinata kepada Kontan.co.id, Senin (15/7).

Selain fintech, Randy menilai sektor healthcare dan e-commerce juga dominan menggunakan sistem AI. Dirinya memberi contoh, kecerdasan buatan bahkan sudah dikembangkan untuk mendeteksi penyakit melalui suara pasien di ranah kesehatan.

"Ada pula jenis kecerdasan buatan yang digunakan secara gratis, misalnya google maps dan google translate. Dari sini, bisa dilihat kecerdasan buatan masih dipegang oleh pemain global," imbuh Randy.

Sementara Presiden of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata menilai, ke depannya Asia bisa dikatakan memimpin kelompok pemain dalam industri kecerdasan buatan. "Ke depannya, negara-negara di Asia bisa dikatakan dapat lumayan menguasai lapangan AI, bahkan memimpin gank AI," tuturnya saat ditemui usai mengisi acara di Selular Congres 2019 di Grand Sheraton, Gandaria City, Senin (15/7).

Dirinya menekankan, teknologi kecerdasan buatan, utamanya harus berorientasi dan mengutamakan kenyamanan pelanggan alias costumer oriented. Selain itu, penting pula mengutamakan produktifitas.

"Untuk saat ini, tidak ada negara yang benar-benar leading dalam hal AI ini. Namun ini menjadi kesempatan bersama untuk mencapai level paling 'fits',"pungkas Ridzki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×