Reporter: Vina Elvira | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri beauty and wellness di Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berkembang seiring dengan upaya pemerintah mendorong investasi di sektor wisata medis (medical tourism) dan wisata kebugaran (wellness tourism).
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa, mengatakan investasi di sektor tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintah.
Pengembangan industri kecantikan dan kebugaran diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia sebagai destinasi layanan kesehatan dan estetika.
Baca Juga: Harga Batubara Naik, Bahlil Lirik Peluang Genjot Produksi Batubara
Peluang tersebut turut mendorong ekspansi jaringan klinik estetika asal Malaysia, MyClinic, ke Indonesia melalui MyClinic Jakarta yang dioperasikan oleh PT Klinik Unsukses Sinergi.
Peluncuran klinik pada Sabtu (10/10/2026) menjadi langkah awal perusahaan memasuki pasar Indonesia.
Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat ekosistem layanan kecantikan sekaligus membuka peluang investasi dan penciptaan lapangan kerja.
“Ada satu hal yang sangat berkaitan dengan prioritas Kementerian Pariwisata, yaitu investasi. Investasi di sektor wellness atau medical tourism menjadi salah satu prioritas,” ujar Rizki dalam acara peluncuran MyClinic Jakarta.
Menurut Rizki, pengembangan wisata medis di dalam negeri perlu diiringi dengan peningkatan kualitas layanan, inovasi, dan kolaborasi antarpelaku industri.
Indonesia dinilai memiliki potensi untuk menawarkan layanan dan teknologi kesehatan yang mampu bersaing dengan negara lain dengan nilai yang sepadan bagi pasien.
Baca Juga: SKK Migas Dukung RUU Migas, Pembahasan DIM Disebut Hampir Rampung
“Kita bilang, motonya sehat dan bugar di Indonesia saja. Nah, ini yang perlu kita gaungkan. Saya percaya kalau kualitas layanan dijaga, inovasi terus dilakukan, dan kolaborasi dari para pelaku makin kuat, MyClinic akan memberi kontribusi yang positif bagi industri beauty and wellness di Indonesia,” katanya.
Dari sisi bisnis, Indonesia juga memiliki basis konsumen yang sebelumnya telah mengenal layanan MyClinic di Malaysia.
Founder sekaligus Medical Director MyClinic, Dr. Hoe Yut Hung menyebut, konsumen asal Indonesia menyumbang sekitar 5% dari total pasien MyClinic di Malaysia.
Kontribusi tersebut menjadi salah satu peluang bagi perusahaan untuk memperluas jangkauan bisnis ke pasar domestik.
“MyClinic Jakarta merupakan langkah penting dalam perjalanan kami. Selama 12 tahun, kami telah membangun pengalaman, standar medis, dan filosofi pelayanan yang menjadi dasar setiap treatment yang kami lakukan. Kini kami membawa pengalaman tersebut ke Jakarta,” ujar Hoe.
Baca Juga: Sungai Kapuas Surut Imbas El Nino, Biaya Angkut CPO Jalur Sungai Naik
Untuk merealisasikan ekspansi tersebut, perusahaan menginvestasikan sekitar 1 juta ringgit Malaysia atau setara Rp 4,38 miliar untuk membangun cabang pertama di Indonesia. Investasi tersebut termasuk pengadaan peralatan kecantikan berteknologi tinggi.
Jakarta dipilih sebagai lokasi awal karena dinilai menjadi salah satu pusat perkembangan aesthetic medicine di Indonesia.
Ke depan, potensi pasar domestik akan menjadi salah satu faktor penting bagi pengembangan bisnis perusahaan.
MyClinic Jakarta menawarkan berbagai layanan estetika medis, mulai dari perawatan kulit hingga prosedur estetika lanjutan.
Layanannya mencakup facial treatment, laser, peeling, microneedling, platelet-rich plasma (PRP), perawatan pelangsingan, injeksi estetika, skin booster, hingga perawatan rambut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














