kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

Sungai Kapuas Surut Imbas El Nino, Biaya Angkut CPO Jalur Sungai Naik


Selasa, 20 Oktober 2026 / 15:54 WIB
Sungai Kapuas Surut Imbas El Nino, Biaya Angkut CPO Jalur Sungai Naik
ILUSTRASI. Panen kelapa sawit (KONTAN/Baihaki)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Surutnya Sungai Kapuas di Kalimantan Barat akibat kekeringan ekstrem El Nino menghambat pengangkutan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Kondisi ini dinilai meningkatkan biaya logistik bagi pelaku usaha sawit yang mengandalkan jalur sungai.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, kenaikan biaya angkut terutama dialami pelaku usaha yang tidak dapat lagi mengirimkan CPO melalui Sungai Kapuas dan harus mengalihkan pengiriman ke pelabuhan lain.

Namun, ia menyebut, besaran kenaikan ongkos angkut tersebut bergantung pada jarak pengiriman ke pelabuhan alternatif.

"Yang tidak bisa mengangkut CPO melalui sungai dan harus dilangsir ke pelabuhan lain terdekat pasti ada penambahan biaya angkut, kenaikan berapa tergantung jauh dekatnya," jelasnya kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga: Konsumsi CPO Naik akibat B50, Bagaimana Prospek Ekspor Sawit Indonesia?

Eddy mengatakan, kenaikan biaya angkut tidak terjadi secara merata. Sebab, sebagian pelaku usaha masih dapat mengandalkan jalur darat untuk mengangkut CPO dari kebun menuju lokasi pengiriman.

"Tidak semuanya naik. Yang terdampak tidak banyak karena tidak semua melalui sungai dari kebun, masih banyak juga yang diangkut via darat," terang Eddy.

Selain mengganggu distribusi, kekeringan ekstrem juga berpotensi menekan produksi kelapa sawit pada tahun depan. Gapki memperkirakan dampak kekeringan tahun ini akan terasa pada produksi 2027.

"Dampak kekeringan tahun ini, penurunan produksi tahun 2027 diperkirakan sekitar 3 juta ton," kata Eddy.

Sebelumnya, melansir Reuters, surutnya Sungai Kapuas dilaporkan menyebabkan tangki penyimpanan CPO di sejumlah pabrik penuh. Kondisi tersebut membuat sejumlah pabrik menahan pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani karena pengiriman CPO terkendala kekeringan berkepanjangan di jalur transportasi utama.

Baca Juga: Lampaui Ekspor, Konsumsi CPO Domestik Diproyeksi Tembus 27,1 Juta Ton

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×