Reporter: David Oliver Purba | Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA. Kondisi ekonomi yang belum membaik ditambah dengan industri semen yang belum tumbuh, tidak menyurutkan rencana PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk melanjutkan ekspansi pabrik semennya.
Perusahaan berkode INTP di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini tetap berkomitmen melanjutkan pembangunan pabrik semen berkapasitas 4,4 juta ton semen yang berlokasi di Citereup, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan investasi mencapai Rp 5,5 triliun - Rp 6,5 triliun.
Namun, penyelesaian pabrik ini akan terlambat dan tidak sesuai dengan jadwal yang ditargetkan.
Sekretaris Perusahaan Indocement Pigo Pramusakti Kusdiharjo menjelaskan, pabrik yang semula ditargetkan rampung akhir 2015 harus molor dari jadwal. "Kemungkinan besar akan selesai kuartal I-2016," ujar Pigo kepada KONTAN, Kamis (5/11) lalu.
Keterlambatan ini menurut Pigo bukan karena industri semen yang lesu, juga bukan lantaran isnis Indocement yang tengah melambat.
"Banyak hal yang membuat pembangunan pabrik jadi terlambat, salah satunya kemarin banyak libur, pekerjanya juga tidak bekerja," klaim Pigo. Dirinya menampik alasan terlambatnya penyelesaian pabrik karena bisnis Indocement yang menurun.
Asal tahu saja, hingga Kuartal III-2015, pendapatan Indocement turun sebesar 9% atau menjadi Rp 12,886 triliun. Bandingkan pada periode yang sama tahun lalu Indocement mencatatkan pendapatan sebesar Rp 14,166 triliun.
Meski terlambat dari jadwal, Pigo bilang, pabrik yang diberi nama p14 ini akan memberikan efisiensi biaya yang cukup besar dibandingkan dengan pabrik lama yang saat ini masih berjalan seperti pabrik P1 dan P2.
Efisiensi biaya produksi bisa mencapai US$ 10 per ton. Efisiensi ini tercapai dari teknologi yang lebih canggih ketimbang pabrik lama Indocement.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













