Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) membidik penguatan akses pasar Amerika Serikat (AS) untuk meningkatkan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional. Salah satu tantangan yang perlu dibenahi adalah efisiensi biaya dan kepastian logistik.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, AS merupakan salah satu pasar strategis bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia. Indonesia berada di posisi kedelapan dengan nilai ekspor sekitar US$ 710 juta atau menguasai 2,7% pangsa pasar.
Namun, untuk memperbesar penetrasi pasar, industri nasional perlu memperkuat daya saing dari sisi desain, kualitas, kepastian pengiriman hingga biaya logistik.
“Peluang di pasar Amerika Serikat terbuka, tetapi peningkatan ekspor membutuhkan daya saing yang kuat. Pembeli mempertimbangkan desain, mutu yang konsisten, kepastian pengiriman, biaya logistik, dan kepatuhan terhadap ketentuan pasar,” ujar Abdul Sobur dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan data U.S. Trade Representative (USTR), perdagangan barang AS dan Indonesia mencapai US$ 45,5 miliar pada 2025. Impor AS dari Indonesia mencapai US$ 34,6 miliar, tumbuh 24,8% dibandingkan 2024. Sementara ekspor AS ke Indonesia mencapai US$ 10,8 miliar atau naik 7%.
Baca Juga: HIMKI Buka Kolaborasi Kembangkan Industri Mebel Indonesia-Malaysia
Khusus produk mebel kategori HS 9403, nilai impor AS pada 2025 mencapai US$ 26,46 miliar. Vietnam dan China mendominasi pasar dengan pangsa gabungan 49,2%. Adapun Indonesia berada di posisi kedelapan dengan nilai ekspor sekitar US$ 710 juta atau menguasai 2,7% pangsa pasar.
Abdul menilai, biaya logistik menjadi salah satu komponen yang mempengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar AS. Menurut dia, daya saing ekspor tidak hanya ditentukan harga produk, tetapi juga total biaya hingga barang diterima pembeli, termasuk tarif perdagangan, biaya angkutan dan penanganan logistik.
Karena itu, HIMKI mendorong penguatan konektivitas perdagangan serta efisiensi pengangkutan agar biaya dan waktu pengiriman produk Indonesia lebih kompetitif. Di sisi lain, industri juga perlu meningkatkan kemampuan desain, pemanfaatan teknologi, penggunaan bahan baku yang bertanggung jawab serta kapasitas pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Baca Juga: Industri Mebel RI Bidik Ekspor US$ 6 Miliar, Daya Saing Masih Jadi Tantangan
HIMKI juga mengoptimalkan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) dan Trade Expo Indonesia (TEI) untuk mempertemukan produsen nasional dengan pembeli mancanegara. Organisasi tersebut tengah merancang pengembangan market hub dalam empat tahun ke depan untuk menjaga hubungan bisnis dengan pembeli internasional di luar momentum pameran.
HIMKI menargetkan nilai ekspor mebel dan kerajinan Indonesia mencapai US$ 6 miliar pada 2031 dan US$ 25 miliar pada 2045. Sebagai pembanding, nilai ekspor mebel Indonesia untuk kategori HS 9401–9403 pada 2025 tercatat US$ 1,84 miliar.
“Amerika Serikat merupakan salah satu pasar strategis. HIMKI ingin memperkuat hubungan dengan pembeli dan mitra, sekaligus membantu anggota meningkatkan nilai produk Indonesia di pasar global,” kata Abdul.
Baca Juga: Meski Order Melambat, HIMKI Optimistis Ekspor Mebel Tembus US$ 6 Miliar
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














