kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pasar loyo, kapasitas produksi semen tak maksimal


Senin, 27 Juni 2016 / 10:35 WIB

Pasar loyo, kapasitas produksi semen tak maksimal


JAKARTA. Proyek percepatan infrastruktur belum mampu menjadi stimulus positif bagi industri semen. Alhasil, kapasitas produksi industri semen di Indonesia belum mampu mencapai kapasitas produksi maksimum. 

Agung Wiharto, Sekretaris perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) bilang, kapasitas terpasang industri semen mencapai 88 juta ton per tahun. Sementara, kemampuan produksi baru 75 juta ton-80 juta ton per tahun.

Meski banyak pabrik semen baru beroperasi, namun kapasitas produksinya tak langsung bisa maksimum. Di sisi lain, banyak pabrik semen berusia uzur mengurangi produksi karena perbaikan. "Jadi utilisasi pabrik saat ini 70%-80%," kata Agung kepada KONTAN, Jumat (24/06).

Selain masalah teknis, kemampuan produksi semen belum moncer karena penyerapan semen masih loyo. Agung memproyeksikan, ada 8 juta ton -10 juta ton produksi semen yang belum terserap. Kondisi itu terjadi karena pertumbuhan pasar semen hanya 2,5% pada Januari-Mei 2016.  

Sampai akhir tahun ini, Agung memproyeksikan pertumbuhan industri semen bisa 5%-6%. "Kami harap ada kenaikan pertumbuhan di semester dua,” kata Agung

Meski ada kelebihan pasokan, namun Agung mengklaim, kondisi tersebut tak terjadi pada perusahaanya. Asal tahu, produksi Semen Indonesia sekitar 27 juta ton -28 juta ton per tahun dengan pangsa pasar 41%-42%. 

Ekspansi tetap jalan

Dengan alasan ini, Agung bilang tak ada rencana penundaan ekspansi. Saat ini Semen Indonesia sedang membangun pabrik di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung VI Padang, yang akan selesai tahun ini. 

Hal yang sama juga dilakukan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk yang tidak berencana menunda penyelesaian pabrik ke-14 di Citereup, Bogor. 

Pigo Pramusakti, Sekretaris Perusahaan Indocement bilang, pabrik terbarunya itu sudah dalam commissioning dan siap beroperasi Juli 2016 atau Agustus 2016. "Sesuai jadwal," kata Pigo.

Pabrik anyar itu akan menambah produksi INTP menjadi 25 juta ton per tahun. Sementara utilisasi pabrik INTP baru 70%. Soal kelebihan pasokan semen, Pigo bilang tak terjadi di Indocement. 

Alasannya, saat kondisi pasar tak menentu, Indocement menyesuaikan produksi semen dengan permintaan. "Pabrik yang muda tentu lebih efisien, maka pabrik tua kami istirahatkan," tandas Pigo.

Dari sisi kapasitas, Indocement memiliki 24% dari total kapasitas nasional dengan pangsa pasar 25%. "Pasar kami masih oke," kata Pigo.

Adapun PT Semen Baturaja Tbk saat ini berusaha meningkatkan produksi untuk mengiringi permintaan. 

"Saat ini banyak proyek pemerintah di Palembang, seperti light rail transit(LRT) dan Masjid Raya Sriwijaya," kata Zulfikri Zubli, Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja Tbk kepada KONTAN, Minggu (26/6).

Meski pasar domestik sedang lesu, namun Pigo bilang tak berencana untuk memperkuat pasar ekspor. Pigo menilai, ekspor semen tidaklah ekonomis. "Semakin jauh kita ekspor, semakin kecil marginnya," terang Pigo.

Sementara itu, Semen Indonesia melakukan ekspor jika ada kelebihan produksi dari pabriknya. 

Agung bilang, secara grup, Semen Indonesia mengekspor ke Timor Leste, Filipina, dan Maladewa. "Tujuan ekspor ke Asia Tenggara dan Selatan," kata Agung.


Reporter: Juwita Aldiani, Pamela Sarnia
Video Pilihan


Close [X]
×