kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pasar Tanah Abang Sepi, TikTok Shop Bukan Satu-satunya Penyebab


Sabtu, 23 September 2023 / 12:45 WIB
Pasar Tanah Abang Sepi, TikTok Shop Bukan Satu-satunya Penyebab


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sebagai salah satu sentral penjualan pakaian di Indonesia, Pasar Tanah Abang dalam beberapa bulan terakhir mengalami kejatuhannya. 

Banyak pihak menyebut, turunnya omset, sepinya pengunjung hingga merosotnya pembelian di pasar yang sudah ada sejak 30 Agustus 1735 itu disebabkan oleh banyaknya konsumen yang beralih membeli barang di sosial e-commerce, Tiktok Shop.

Pendapat ini tak sepenuhnya disetujui oleh Safina (34), yang memiliki kios bernama Ratu Collection, di Blok A lantai S-LG, Tanah Abang. Saat ditemui Kontan, ia sedang berdagang sambil melakukan live shopping lewat akun Tiktok Shop-nya.

Menurut Safina, Tiktok Shop sebenarnya cukup membantu, dibandingkan harus berpangku tangan menunggu konsumen datang ke tokonya. 

Baca Juga: TikTok Shop Tak Dilarang, Kemendag: Hanya Diatur

“Kalau saya, dibandingkan toko (offline) justru lebih ramai di Tiktok. Di Tiktok sebenarnya bulan ini turun juga (omset), biasanya 50-100 pieces (pcs) ada (terjual), cuma sebulan terakhir di Tiktok juga turun, paling 20 pcs sehari,” ungkap dia saat diwawancarai Kontan.co.id, Jumat (22/09). 

Ia bercerita, sebelum ramai masalah Tiktok dan Tiktok Shop yang dianggap mematikan UMKM, setahun yang lalu Tiktok sempat datang ke Tanah Abang dan mendaftarkan para pedagang agar memiliki akun Tiktok Shop.

“Tiktok setahun yang lalu pernah keliling ke sini (Tanah Abang), katanya bantu UMKM juga biar bisa jualan di Tiktok. Merekalah yang daftarin kita-kita ini, awalnya lumayan penjualannya 100 pcs juga ada,” ungkapnya.

Namun dia mengeluhkan, seiring waktu potongan yang diambil Tiktok Shop dari pedagang semakin besar. Di awal memiliki akun, setiap transaksi hanya akan dipotong sebesar Rp 2.000 saja.  

“Tiktok shop 4% sekarang potongannya, udah pakai persenan. Harganya lebih mahal, potongannya lebih besar juga. Sama gratis ongkir ditanggung juga sama penjual,” ungkapnya.

Meski mengaku keberatan dengan kebijakan Tiktok, ia tak punya pilihan lain sebab Tanah Abang tak seramai dulu. Dan satu-satunya jalan menambah pemasukan adalah berjualan online. 

“Omset sudah turun 80% selama 3 bulan terakhir ini,” katanya.

Terkait dengan isu akan ditutupnya Tiktok dan Tiktok Shop, Safina sebenarnya tidak keberatan, namun jika ditutup dan pasar tetap sepi, menurutnya kebijakan itu sama saja akan tetap memberatkan pedagang. 

“Kalau Tiktok Shop mau ditutup saya tidak apa-apa, asal pasar bisa ramai seperti dulu. Kalaupun misalnya Tiktok Shop jadi ditutup terus toko juga masih sepi, kita harus gimana lagi?” tanyanya. 

Baca Juga: Negosiasi Pengusaha dan Pemerintah Buntu, Sengketa Tagihan Migor Sampai Meja Hijau

Berbeda dengan Safina, Rika (27) yang memiliki kios bernama Bitcoin Premium Class, di Blok B lantai G No 11, Tanah Abang mengatakan barang-barang di Tiktok menjadi salah satu penyebab menurunnya omset pedagang-pedagang. 

Ia juga mengatakan, satu-satunya pemasukan hanya berasal dari penjualan offline. Ia tak menggunakan Tiktok Shop atau e-commerce lain untuk berjualan. 

“Penurunannya menurut saya gara-gara banyak yang online itu sih, terus harganya jauh lebih murah juga, tapi tidak masuk harganya (di pasar). Kadang-kadang ada jilbab Rp 5.000 bahkan ada yang jual jilbab Rp 1.000,” katanya.

Penurunan ini mulai dirasakannya setelah lebaran. Namun ia mengakui setelah lebaran tahun 2023 memang lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

“Kalau pas puasa bisa dapet Rp 14 jutaan lah (omset), sekarang Rp 3 juta saja udah susah, makin nambah bulan, makin sepi,” ungkapnya 

Berbeda lagi dengan Annisa (24) yang memiliki kios bernama Mr Fashion, di Blok F lantai 2, Tanah Abang.

Ia mengatakan bahwa di Blok F, pembeli masih cukup ramai. Apalagi kata dia Blok F sering dilewati orang yang menuju atau dari Stasiun Tanah Abang. 

Dia juga mengatakan bahwa ramai atau tidaknya suatu toko tergantung pada jenis fashion apa yang dijual.

“Kita kan jual abaya dan gamis, sekarang lagi musim orang nikahan, jadi ramai,” ungkapnya. 

Senada dengan Annisa, Sarah (28) yang berjualan bersama 400 toko lainnya di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Tanah Abang juga mengatakan tokonya masih lumayan ramai. 

Ia meyakini, salah satu penyebabnya karena tempatnya yang strategis di tengah jembatan yang menghubungkan Stasiun Tanah Abang dengan Blok-blok lain pasar Tanah Abang. 

Baca Juga: Tuntutan ke Pemerintah untuk Tegas terhadap TikTok Shop Makin Nyaring

“Ya mau enggak mau kan orang lewat, mungkin yang niatnya enggak beli, jadi beli,” katanya.

“Kalau Sabtu-minggu Rp 1-2 juta (omset), kadang Rp 2,5 juta. Kalau hari biasa kadang Rp 500.000,” tambahnya. 

Untuk diketahui, penjual di Pasar Tanah Abang dibagi jadi beberapa tempat. Ada yang berjualan di Blok A, Blok B, Blok E, Blok F, dan Blok G.

Kemudian diluar Blok, ada pula yang berjualan di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) dan Central Tanah Abang (CTA) yang baru dibuka. 

Dari sekian banyak tempat dan Blok G adalah tempat yang paling sepi. Blok ini tidak terdiri dari bangunan lama yang tidak terintegrasi dengan Stasiun Tanah Abang atau Blok lainnya. 

Laila (32) pemilik memiliki kios bernama Toko Harapan Jaya, di Blok G Tanah Abang mengatakan kios di blok ini hanya tersisa 30-40 tempat saja. Padahal Blok G terdiri dari 4 lantai yang menurut dia bisa menampung 300 lebih kios. 

Untuk menyiasati sepinya Blok G, rata-rata penjual yang bertahan adalah penjual yang berjualan baju seragam atau keperluan sekolah, berbeda dengan di blok lainnya yang berjualan pakaian fashion.

“Kita lebih jualan seragam, karenakan tidak musiman ya, apalagi banyak yang punya KJP, bisa tebus disini (seragamnya),” ungkapnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×