Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri manufaktur domestik masih mengeluhkan kendala operasional akibat keterbatasan pasokan serta tingginya harga pasokan gas bumi di pasar dalam negeri.
Saat ini tarif Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) tercatat masih bertahan pada kisaran US$ 6,5 hingga US$ 7 per MMBTU, sementara pemerintah juga memberikan kebijakan insentif berupa pemotongan harga Liquefied Natural Gas (LNG) menjadi US$ 13 per MMBTU bagi sektor non-HGBT.
Pemberian diskon harga LNG untuk industri non-HGBT tersebut dialokasikan hingga akhir tahun 2026 demi meredam gejolak biaya energi bagi industri. Ini sebagai cadangan untuk menutup defisit volume penyaluran gas pipa yang mengalami penurunan produksi di sejumlah wilayah kerja.
Baca Juga: PGN Amankan Hampir 20 Kargo LNG, Pasokan Gas hingga Akhir 2026 Diklaim Aman
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman menilai penyesuaian tarif insentif menjadi langkah yang tidak terhindarkan di tengah keterbatasan cadangan energi pipa hulu.
"Memang pilihannya kalau pasokan gas pipa turun maka yang tersedia adalah LNG yang pasti lebih mahal. Karena itu Pemerintah sudah menurunkan atau diskon harga LNG tersebut," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (21/10/2026).
Lebih lanjut, Saleh menekankan, kebijakan penyesuaian biaya energi dari pemerintah tersebut pada dasarnya bertujuan untuk memfasilitasi keberlangsungan kinerja rantai pasok industri nasional.
"Sektor industri harus tumbuh dan karena itu pemerintah memberikan diskon harga LNG, yang penting gasnya ada," pungkasnya.
Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) memastikan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) aman untuk memenuhi kebutuhan energi nasional hingga akhir tahun 2026.
Perusahaan plat merah dengan kode saham PGAS tersebut mengeklaim telah berhasil mengamankan puluhan kargo LNG guna menjaga kelancaran distribusi ke seluruh pelanggan.
Group Head Gas Supply dan LNG Trading PGN, Muhammad Anas Pradipta menyatakan bahwa ketersediaan pasokan energi fosil cair tersebut sudah dalam kondisi aman.
"(Kebutuhan) ya pokoknya hampir 20-an. Udah secure. Harganya juga udah dijamin kan oleh pemerintah," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Anas menyebutkan, pasokan kargo LNG yang dikelolanya dihimpun dari berbagai sumber kilang domestik guna menopang rantai pasok energi primer. Menurutnya, ini dilakukan sejalan dengan kinerja penyaluran gas melalui jaringan pipa nasional yang juga mencatatkan performa baik.
Dia bilang, sumber pasokan energi tersebut tersebar dari berbagai kilang utama di dalam negeri untuk menjaga ketahanan energi nasional.
"Semua kilang, Donggi ada, Tangguh ada, Bontang ada, semua ada. Gas pipa juga lagi bagus-bagusnya," tandasnya.
Baca Juga: Kelangkaan BBM di Sejumlah Daerah, Kadin Ungkap Dampak Kerugian Ke Dunia Usaha
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














