Reporter: Vina Elvira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Avia Avian Tbk (AVIA) menghadapi berbagai tekanan bisnis sepanjang 2026, mulai dari lemahnya permintaan di sektor properti dan proyek hingga kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah. Untuk menghadapinya, produsen cat merek Avian ini menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga margin dan daya saing.
Head of Investor Relations AVIA Andreas Timothy Hadikrisno mengatakan, kondisi permintaan dari segmen properti, proyek, maupun ritel saat ini masih cenderung lemah dan belum sepenuhnya pulih.
Terkhusus segmen properti dan proyek, permintaan masih belum menunjukkan pertumbuhan yang agresif. Aktivitas pembangunan dan renovasi tetap berjalan, namun belum kembali ke level yang sangat kuat.
"Permintaan dari segmen properti, proyek, maupun ritel saat ini masih cenderung lemah dan belum sepenuhnya pulih. Hal ini sejalan dengan kondisi makro yang masih menantang, terutama terkait daya beli masyarakat, tingkat suku bunga, serta sikap konsumen yang lebih berhati-hati dalam melakukan pengeluaran untuk renovasi maupun pembangunan," ujar Andreas kepada Kontan.co.id, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Pasar Menantang, Avia Avian (AVIA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan Hingga 10% di 2026
Kondisi tersebut juga tercermin pada sejumlah sektor bahan bangunan lain, seperti semen dan material konstruksi yang secara umum belum mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Sementara itu, pada segmen ritel, permintaan masih ditopang oleh kebutuhan perawatan rumah, pengecatan ulang (repainting), dan renovasi ringan. Namun, konsumen dinilai semakin selektif dalam memilih produk, baik dari sisi merek, kualitas, maupun harga.
"Karena itu, pertumbuhan di ritel lebih banyak didorong oleh kekuatan merek, ketersediaan produk di toko, kualitas produk, promosi yang tepat, serta jaringan distribusi yang luas," katanya.
Di tengah kondisi pasar tersebut, AVIA tetap berupaya memperkuat posisi pasar dengan menjaga ketersediaan produk, mempererat hubungan dengan toko, memperluas penetrasi pasar, serta menawarkan portofolio produk yang sesuai dengan kebutuhan berbagai segmen konsumen.
Di sisi lain, tantangan industri cat juga datang dari sisi biaya. Menurutnya, volatilitas harga bahan baku masih menjadi perhatian utama karena sebagian bahan baku industri cat masih dipengaruhi oleh harga komoditas global, nilai tukar rupiah, serta ketegangan geopolitik yang dapat berdampak terhadap rantai pasok dan biaya impor.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut memberikan tekanan terhadap struktur biaya perusahaan. AVIA mencatat sekitar 70% biaya bahan bakunya memiliki eksposur terhadap dolar AS.
Komposisi tersebut terdiri atas sekitar 35% bahan baku impor langsung dan sekitar 35% bahan baku yang dibeli secara lokal namun tetap memiliki keterkaitan dengan pergerakan dolar AS karena harga dasarnya mengacu pada pasar global.
Meski demikian, dampak pelemahan rupiah tidak langsung tercermin secara penuh pada saat yang sama karena adanya lagging effect dari sisi persediaan bahan baku, kontrak pembelian, maupun waktu pengadaan bahan baku.
"Karena itu, pengaruh terhadap margin akan bergantung pada seberapa besar dan seberapa lama pelemahan rupiah terjadi, serta bagaimana pergerakan harga bahan baku global pada periode tersebut," paparnya.
Untuk meredam tekanan tersebut, AVIA mengandalkan sejumlah strategi mitigasi. Perseroan menjaga hubungan dengan pemasok, mengoptimalkan strategi pembelian bahan baku, serta menjalankan efisiensi dan disiplin pengelolaan biaya.
AVIA juga telah melakukan penyesuaian harga sebanyak dua kali sepanjang tahun 2026. Langkah tersebut dilakukan secara terukur guna menjaga profitabilitas sekaligus mempertahankan daya saing produk di pasar.
Ke depan, AVIA akan terus memantau perkembangan harga bahan baku, pergerakan nilai tukar, dan dinamika persaingan industri sambil tetap fokus pada efisiensi, inovasi produk, penguatan distribusi, dan perluasan pangsa pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













