kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Pemerintah Bidik Produksi Gula 3 Juta Ton, Ini Harapan AGI


Jumat, 13 Maret 2026 / 16:29 WIB
Pemerintah Bidik Produksi Gula 3 Juta Ton, Ini Harapan AGI
ILUSTRASI. Pekerja mengemas gula pasir di Gudang Bulog (WARTAKOTA/Nur Ichsan)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Gula Indonesia (AGI) melirik adanya peluang besar jika target pemerintah terkait produksi gula nasional sebanyak 3 juta ton di tahun ini bisa tercapai.

Sekretaris Jenderal AGI, Dwi Purnomo mengatakan bahwa dengan tercapainya target tersebut, maka swasembada gula tercapai dan pelaku usaha tak perlu impor lagi.

"Jika bahan baku tebu terus meningkat lagi, pabrik gula bisa menghasilkan raw sugar untuk diolah sebagai gula industri yang selama ini impor," katanya kepada Kontan, Kamis (12/3/2026).

Dwi menjelaskan, saat ini pelaku usaha tebu, baik petani maupun pabrik gula, hanya menunggu masa giling lantaran musim tanam tebu sudah selesai. Maka itu, para pelaku usaha tinggal memaksimalkan panen (tebang dan angkut) dan pengolahan gula.

Baca Juga: Penjualan Tiket Whoosh Diproyeksi Naik 25% Saat Libur Lebaran 2026

Sementara dari sisi pemerintah, AGI mencermati pemerintah dapat melakukan sejumlah upaya agar target produksi 3 juta ton gula bisa berkelanjutan. 

Pertama, meningkatkan pendapatan petani tebu terutama terhadap penurunan harga tetes tebu (molase) yang disebabkan kebijakan liberalisasi impor etanol.

Hal tersebut, katanya, hingga hari ini memangkas pendapatan petani dengan cukup signifikan.

"Dengan begitu, dikhawatirkan minat petani menanam tebu bisa menurun, yang pada ujungnya dapat mengganggu perkembangan areal," kata Dwi.

Kemudian, pemerintah pun disarankan melanjutkan insentif program bongkar ratoon atau tebu lama yang sudah berjalan, guna mendorong peningkatan produktivitas dan perluasan areal.

"Pemerintah juga perlu merasionalkan impor gula agar jangan sampai mendistorsi pasar gula konsumsi," tandas Dwi.

Baca Juga: Kemenperin Ungkap Dampak Gejolak Timur Tengah ke Industri Plastik dan Kemasan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×