Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) optimistis melihat prospek kinerja pada sisa tahun ini seiring dengan pencapaian kinerja hingga periode tahun berjalan.
Meski demikian, perusahaan tetap akan mencermati sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi kinerja industri perkebunan sawit, antara lain dinamika harga crude palm oil (CPO) dan kondisi cuaca.
Corporate Secretary BWPT Rizka Dewi S menyampaikan hingga semester I-2026, perusahaan berhasil mencetak kinerja positif dengan pendapatan sebesar Rp3,26 triliun, atau tumbuh 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,78 triliun.
Baca Juga: KNTI Soroti Tantangan Pemerintah dalam Mengejar Target NTN 120 pada 2027
Laba periode berjalan juga meningkat menjadi Rp215 miliar, atau tumbuh 16% dari Rp 185,14 miliar, yang didukung oleh peningkatan kinerja operasional, disiplin pengelolaan biaya, serta optimalisasi bisnis yang dijalankan secara konsisten.
“Fokus Perseroan adalah menjaga pertumbuhan yang berkualitas melalui peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta pengembangan bisnis yang berkelanjutan,” ungkap Rizka, kepada Kontan.co.id, Senin (19/10).
Untuk menggenjot kinerja pada semester II-2026, perusahaan berfokus pada peningkatan produktivitas kebun dan optimalisasi aset melalui penerapan Best Agronomy Practices, mekanisasi, digitalisasi, serta penguatan pasokan Tandan Buah Segar (TBS) melalui program Plasma Mandiri.
Dari sisi pengolahan, BWPT terus mengoptimalkan kapasitas pabrik, termasuk melalui mill extension di Kalimantan Timur yang telah selesai dilaksanakan.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan Kernel Crushing Plant (KCP) di Kalimantan Tengah berkapasitas sekitar 200 ton per hari untuk meningkatkan nilai tambah produk dan membuka peluang pendapatan baru.
“Langkah ini didukung pengembangan Biogas Power Plant serta penguatan infrastruktur operasional guna mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” terangnya.
Perusahaan belum merilis laporan resmi realisasi produksi hingga kuartal III-2026. Namun, sepanjang semester I-2026, BWPT mencatatkan produksi TBS sebesar 510.234 ton, CPO sebesar 148.998 ton, dan PK sebesar 29.786 ton.
Sejalan dengan pencapaian pada periode tersebut perusahaan tetap optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan produksi hingga akhir 2026.
Namun demikian, ada beberapa faktor yang menjadi perhatian perusahaan dalam menjaga produktivitas produksi saat ini di antaranya kondisi cuaca, produktivitas tanaman, ketersediaan pasokan TBS, dan keandalan operasional pabrik.
Terkait perubahan pola cuaca, termasuk potensi El Nino, sebutnya, menjadi salah satu faktor yang terus diantisipasi perusahaan. Meski begitu, hingga kini kegiatan operasional perusahaan masih berjalan normal.
Sebagai langkah mitigasi, BWPT menerapkan sistem deteksi dini melalui pemantauan satelit, drone, menara pemantau api, serta patroli rutin.
“Upaya ini diperkuat dengan penerapan Best Agronomy Practices dan pemantauan digital untuk menjaga produktivitas kebun sekaligus meminimalkan risiko gangguan operasional akibat perubahan cuaca,” jelas Rizka.
Dari sisi belanja modal atau capital expenditure (Capex), perusahaan mengalokasikan belanja modal secara selektif dan bertahap, dengan kisaran 3%–5% dari pendapatan tahunan atau sekitar Rp300 miliar berdasarkan skala pendapatan saat ini.
Alokasi tersebut terutama ditujukan untuk pemeliharaan aset, penguatan infrastruktur, serta proyek strategis seperti pengembangan Kernel Crushing Plant, Biogas Power Plant, peningkatan kapasitas pabrik, mekanisasi, dan new planting
“Realisasi belanja modal dilakukan sesuai progres dan prioritas proyek, dengan tetap mengedepankan disiplin investasi dan pengelolaan keuangan yang sehat. Adapun angka penyerapan tahun berjalan akan mengacu pada laporan keuangan resmi Perseroan,” pungkasnya.
Baca Juga: Kemenperin Targetkan Kepastian Insentif Otomotif Rampung Tahun Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














