Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong percepatan pembahasan insentif bagi industri otomotif. Menteri Perindustrian (Menperin) M. Sarmuji menargetkan kepastian kebijakan tersebut dapat dirampungkan tahun ini.
Sarmuji mengatakan, Kemenperin akan mengomunikasikan usulan insentif tersebut dengan kementerian dan pemangku kepentingan terkait, terutama Kementerian Keuangan. Pertemuan dengan Menteri Keuangan akan segera dijadwalkan untuk membahas skema insentif yang akan diberikan.
"Ya, diusahakan tahun ini. Kita akan komunikasikan. Sebulan, dua bulan ini sangat berarti. Kalau enggak, ya nggak apa-apa awal tahun [2027]," ujar Sarmuji kepada wartawan usai bertemu dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di kantor Kemenperin, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Sarmuji, insentif tidak hanya perlu diberikan kepada kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Pemerintah juga perlu mempertimbangkan insentif untuk kendaraan hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), serta range extended electric vehicle (REEV).
Baca Juga: Industri Smartphone Hadapi Krisis Memori, Begini Strategi HONOR
Meski demikian, Sarmuji belum dapat memastikan besaran insentif fiskal maupun sumber anggaran yang akan digunakan. Ia menegaskan, skema insentif untuk kendaraan hybrid dan jenis kendaraan elektrifikasi lainnya akan dibedakan dengan insentif yang sebelumnya diberikan untuk BEV.
Sementara dari sisi nonfiskal, insentif dapat berupa kemudahan administrasi, pengecualian dari aturan ganjil-genap di sejumlah kota, serta fasilitas parkir dan pengisian daya. Namun, fasilitas tersebut tidak harus diberikan dengan skema yang sama seperti untuk mobil BEV.
Ia menilai kendaraan hybrid, PHEV, dan REEV memiliki keunggulan karena masih mengandalkan mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE), sembari memanfaatkan teknologi elektrifikasi.
Kondisi tersebut dinilai dapat membantu industri otomotif dalam melakukan transisi menuju kendaraan elektrifikasi tanpa harus mengubah seluruh struktur produksi dan komponen yang telah ada.
"Kalau yang plug-in maupun yang hybrid biasa, maupun yang REEV, itu masih memakai baterai, tapi juga masih mesin, ICE-nya masih juga pakai. Jadi komponen-komponen yang sekarang produksi sekarang itu tidak perlu berubah secara total juga," ujar Sarmuji.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














