kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Pengamat: Pertamina terkesan membabi buta


Jumat, 07 Februari 2014 / 09:30 WIB
ILUSTRASI. Pencairan Bantuan Subsidi Upah (BSU) atau subsidi gaji tahap I sudah dimulai sejak 12 September 2022.


Sumber: TribunNews.com | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Rencana PT Pertamina (Persero) mengakuisisi PT Bukit Asam (PTBA) Tbk menuai polemik.  Sebelumnya, perusahaan pelat merah ini juga melontarkan keinginannya untuk mengakuisisi Perusahaan Gas Negara (PGN).

Direktur Pengkajian Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa menilai, dari rencana tersebut terlihat kebijakan Pertamina semakin tidak jelas. "Saya melihat Pertamina itu kesannya membabi buta, semua mau diambil, padahal bisnis inti Pertamina kan minyak," tegasnya, Kamis (6/2/2014).

Menurutnya, perusahaan-perusahaan negara tersebut lebih baik fokus pada bisnis intinya masing-masing. "Masing-masing bisnis inti sudah jelas. Masih banyak yang harus dilakukan Pertamina seperti meningkatkan lifting, mencari ladang minyak baru. Ladang lama ekspoitasi lagi. Menurut saya dengan teknologi sekarang ini  mendapatkan mendapatkan ladang baru sudah tidak susah lagi," katanya.

Ia menilai, rencana akuisisi tersebut terkesan hanya untuk kepentingan perorangan atau kelompok tertentu saja. "Ini juga terjadi karena masalah aturan yang memang terkesan liberal khusus di sektor migas," tuturnya.

Iwa mengatakan, akuisisi tidak akan menyelesaikan persoalan utamanya. Persoalan utama saat ini, sebutnya,  Indonesia sangat bergantung pada impor minyak dan BBM yang menguras devisa negara dan membebani APBN.  Hal ini karena lifting minyak terus menurun dan tak ada pembangunan kilang yang memproduksi BBM sejak 1994. “Pertamina harusnya kan fokus ke situ,” katanya.

"Kalau akuisisi ini dilaksanakan ya makin tidak efisien karena organisasinya terlalu besar dan akar permasalahannya tidak diselesaikan, akhirnya akan dipaksakan dan menabrak UU," tambahnya. (Sanusi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×