kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Pengguna sofware bajakan di Indonesia mencapai 84%


Selasa, 24 Juni 2014 / 18:02 WIB
Pengguna sofware bajakan di Indonesia mencapai 84%
ILUSTRASI. Penyebab vertigo.


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Meningkatnya penetrasi pengguna komputer di Indonesia rupanya belum disertai dengan pemahaman penggunaan software original dan berlisensi.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh BSA The Software Alliance, sampai dengan 2013 kemarin  84% dari seluruh software yang dipasang pada komputer-komputer pribadi di Indonesia ternyata masih tidak berlisensi alias bajakan.

Survei ini dilakukan oleh BSA Global Software setiap dua tahun sekali yang meliputi 34 negara, termasuk Indonesia.

“Banyaknya pengguna software bajakan dikarenakan kebanyakan dari mereka tidak tahu apa yang dipasang ke dalam sistem komputer mereka,” ujar Victoria Espinel, CEO BSA dalam rilisnya, Selasa (24/6).

Menurutnya meskipun persentase software bajakan di Indonesia masih cukup besar, tapi sudah ada perbaikan alias penurunan 2% dibanding tahun sebelumnya.

"Kami patut berterima kasih atas upaya keras pemerintah Indonesia, sehingga tingkat penggunaan software tidak berlisensi dapat diturunkan 2%," tambah Roland Chan, Direktur Senior untuk Program Kepatuhan BSA Asia Pasifik.

Menurut Roland, meskipun ada penurunan, kerugian bisnis bagi produsen software di Indonesia ini masih cukup besar. Pada 2013 kemarin, nilai kerugiannya mencapai US$ 1,46 miliar atau sekitar Rp 17,3 triliun.

Jika di Indonesia mengalami sedikit penurunan, tidak demikian di tingkat global. Dimana pengguna software bajakan justru meningkat dari 42% di tahun 2011 menjadi 43% pada tahun 2013.

Peningkatan ini terutama terjadi di negara-negara berkembang. Secara global, kerugian komersial dari penggunaan software tidak berlinsensi ini mencapai US$ 62,7 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×