Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mempercepat pengembangan bahan bakar nabati sebagai langkah mitigasi menghadapi lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Salah satu program yang dipercepat adalah implementasi biodiesel B50.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, program peningkatan campuran biodiesel hingga B50 saat ini masih dalam tahap uji coba. Pemerintah menargetkan proses pengujian tersebut dapat rampung pada semester II tahun ini.
“Kita B50 sekarang masih dalam uji coba. Nanti di semester dua uji cobanya sudah selesai,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (10/3/2026).
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki keunggulan dalam pengembangan biodiesel karena didukung ketersediaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang melimpah. Kondisi ini membuka peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan bauran biodiesel hingga B50 bahkan B60 apabila diperlukan.
Baca Juga: Stok Batubara PLTU Menipis, Pasokan Listrik Nasional Terancam?
Langkah percepatan program biodiesel tersebut dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah potensi gangguan pasokan energi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang telah mendorong harga minyak dunia menembus level di atas US$ 100 per barel.
Sebelumnya, Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengkaji berbagai opsi kebijakan guna merespons kenaikan harga minyak global. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mempercepat implementasi program biodiesel dari B40 menjadi B50.
Selain biodiesel, pemerintah juga mendorong percepatan penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar bensin melalui program E20.
Baca Juga: Kadin dan Apindo Ungkap Dampak Gejolak Timur Tengah terhadap Industri dan Dunia Usaha
Menurut Bahlil, peningkatan bauran biofuel memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Di sisi lain, kebijakan ini juga mendorong optimalisasi pemanfaatan sumber energi domestik.
Ia menambahkan, peningkatan penggunaan bahan bakar nabati turut memberikan manfaat dari sisi lingkungan karena menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












