Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek pasar dan harga batubara pada kuartal IV-2026 diproyeksikan masih berada dalam kondisi yang cukup kuat meski bergerak dinamis.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar menilai, pergerakan komoditas ini tidak lagi berada dalam fase lonjakan ekstrem, melainkan memasuki tren penguatan yang terukur seiring peningkatan permintaan.
Dia mengungkapkan, pasar batubara di akhir tahun ini masih ditopang oleh tingginya kebutuhan dari kawasan Asia. Permintaan utama diperkirakan tetap bergantung pada negara India dan China, sementara kondisi pasokan yang relatif ketat dari produsen Indonesia menjadi faktor penahan penurunan harga lebih lanjut di pasar global.
Baca Juga: Industri Vape Minta BRIN Buka Data Klaim 100% Diabetes dan 92% Gangguan Paru
"Pasar batubara Q4 bagus, masih cukup kuat tetapi cenderung volatil. Jadi saat ini udah bukan lagi dalam fase lonjakan harga seperti sebelumnya namun diperkirakan permintaan akan naik. Pasar masih bergantung pada permintaan Asia, terutama India dan China, sementara pasokan Indonesia yang lebih ketat menjadi faktor penahan penurunan harga," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (5/10/2026).
Bisman menuturkan, memasuki periode musim dingin, lonjakan konsumsi energi biasanya bakal mendongkrak pergerakan harga komoditas batubara di tingkat global. Namun untuk tahun ini, Ia memperkirakan efek kenaikan harga akibat musim dingin tidak akan sebesar tahun-tahun sebelumnya karena China dan negara Asia lainnya telah menyiapkan stok serta produksi domestik, di samping pesatnya pertumbuhan energi terbarukan.
"Dengan HBA kalori tinggi saat ini US$ 122,52 per ton, saya melihat harga kuartal IV-2026 lebih realistis bergerak di kisaran US$ 115–140/ton, dengan kecenderungan stabil hingga sedikit menguat. Namun, jika terjadi gangguan pasokan atau eskalasi geopolitik yang kembali mengerek harga gas, level US$ 140 bahkan lebih tinggi masih terbuka," tuturnya.
Dari sisi strategi operasional, para produsen dan perusahaan tambang dinilai tidak perlu terburu-buru memacu volume produksi secara agresif menjelang penutupan tahun.
Baca Juga: Bapanas Siapkan Subsidi Angkut untuk Stabilkan Harga Daging Ayam
Bisman menyarankan pelaku usaha untuk lebih berfokus pada penjagaan tingkat produksi sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui, sekaligus mengoptimalkan keandalan manajemen stok dan jalur logistik.
"Antisipasi produsen kayaknya enggak harus genjot mengejar produksi secara agresif di akhir tahun. Bisa menjaga produksi sesuai RKAB saja sudah bagus. Selain itu perlu mengoptimalkan stok dan memastikan logistik. Jadi cukup dengan konsisten dan disiplin produksi itu justru dapat membantu menopang harga," jelasnya.
Lebih lanjut, Bisman menambahkan, terkait tantangan operasional di lapangan, para penambang diprediksi masih harus berhadapan dengan ancaman cuaca ekstrem, risiko gangguan logistik, kenaikan biaya produksi, hingga kepastian regulasi.
Menurutnya, fenomena El Nino sendiri dinilai memiliki dampak ganda, di mana kekeringan dapat mengganggu operasional tertentu, tetapi di sisi lain penurunan pembangkit hidro justru berpotensi mendongkrak permintaan batubara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














