Reporter: Gentur Putro Jati | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. PT PLN (Persero) harus bekerja lebih keras lagi mencari kekurangan pendanaan proyek 10.000 Mega Watt (MW) tahap I.
Wakil Direktur Utama PLN Rudiantara melansir, total valas yang dibutuhkan untuk membiayai pembangkit dalam proyek 10.000 Mega Watt (MW) tahap I sebesar US$ 4,8 miliar.
Dengan ditandatanganinya perjanjian kredit senilai US$ 172,9 juta untuk pembangunan PLTU Sulawesi Selatan berkapasitas 2x50 MW, PLTU 3 Bangka Belitung 2x30 MW, PLTU 2 Palapa 2x10 MW, dan PLTU Kalimantan Selatan 2x65 MW dengan sindikasi PT Bank BRI Tbk dan PT Bank BNI Tbk maka pinjaman berbentuk valas yang sudah di dapat PLN adalah sebesar US$ 1,9 miliar.
"Sisanya menjadi sekitar US$ 2,9 miliar yang harus kita cari lagi nanti," ujar Rudiantara, Jumat (30/1). Mantan Wakil Direktur Utama PT Semen Gresik (Tbk) ini, kebutuhan pinjaman valas tersebut akan diupayakan sampai 2011.
Sementara, untuk kebutuhan pinjaman berbentuk rupiah diakuinya juga masih kurang. Dari total kebutuhan pendanaan Rp 19,2 triliun, yang sudah diperoleh adalah Rp 15,3 triliun sehingga masih kurang Rp 3,9 triliun lagi.
Pinjaman dalam bentuk rupiah yang terakhir diperoleh PLN adalah sebesar Rp 2,306 triliun. Di mana sebesar Rp 1,151 triliun diperoleh dari sindikasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) DKI Jakarta, BPD Papua, BPD Sulawesi Selatan, BPD Kalimantan Selatan, BPD Sumatera Selatan, dan BPD Sumatera Utara.
Setidaknya ada empat pembangkit yang akan dibiayai oleh sindikasi ini yaitu PLTU Sulawesi Selatan 2x50 MW, PLTU 3 Bangka Belitung berkapasitas 2x30 MW, PLTU 2 Papua 2x10 MW, dan PLTU Kalimantan Selatan 2x65 MW.
Sisanya, pinjaman kredit sebesar Rp 1,155 triliun untuk PLTU 3 Jawa Timur, Tanjung Awar-Awar berkapasitas 2x350 MW dikucurkan sindikasi PT Bank BNI Tbk dan PT Bank BRI.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News