kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Produksi jagung lokal masih harus digenjot


Rabu, 20 September 2017 / 13:32 WIB


Reporter: Abdul Basith | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - Fluktuasi harga jagung akan mempengaruhi harga komoditas lainnya. Pengaruh tersebut diakibatkan oleh penggunaan jagung sebagai bahan utama pakan ternak. Sementara pakan ternak merupakan biaya paling besar dalam industri peternakan. 

Siswono Yudo Husodo, mantan Menteri Pertanian dalam pembukaan Rembug Jagung Nasional 2017 hari ini (20/9) mengatakan, fluktuasi harga jagung mempengaruhi fluktuasi harga daging ayam dan telur. Sebab selama ini pakan ternak mendominasi sebesar 70% dalam biaya produksi.

Menurutnya, harga jagung saat ini masih tinggi. Siswono bilang, saat ini harga jagung sebesar Rp 3.800 per kg. Angka tersebut lebih tinggi dari batasan harga pemerintah yang sebesar Rp 3.100 per kg.

Oleh karena itu produksi jagung perlu ditingkatkan untuk menjamin pakan ternak. Hal tersebut melihat pertumbuhan konsumsi dagung dan telur ayam. Siswono bilang, konsumsi daging ayam saat ini 10 kilogram (kg) per kapita per tahun. Sementara konsumsi telur ayam sebesar 100 butir telur per kapita per tahun.

Produksi jagung tahun 2016 meningkat dibandingkan tahun 2015. Produksi jagung pada tahun 2015 sebesar 19,61 juta ton. Sedangkan produksi jagung pada tahun 2016 sebesar 23,58 juta ton.

Pertumbuhan produksi tersebut juga menurunkan impor jagung. Tahun 2015 jmpor jagung dinilai Siswono cukup besar yakni 3,5 juta ton. Namun, menurunnya impor dinilai belum menyelesaikan masalah pakan ternak. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×