kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.612.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.983   12,00   0,07%
  • IDX 6.196   -118,88   -1,88%
  • KOMPAS100 811   -18,90   -2,28%
  • LQ45 615   -12,33   -1,97%
  • ISSI 214   -4,08   -1,87%
  • IDX30 346   -6,54   -1,86%
  • IDXHIDIV20 428   -6,37   -1,47%
  • IDX80 93   -2,15   -2,27%
  • IDXV30 117   -1,73   -1,46%
  • IDXQ30 111   -1,86   -1,65%

Produksi sawit Indonesia pada kuartal I-2020 turun 12% menjadi 10,99 juta ton


Jumat, 08 Mei 2020 / 12:56 WIB
ILUSTRASI. Produksi sawit Indonesia pada tiga bulan pertama 2020 turun


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengumumkan, produksi minyak sawit Indonesia pada kuartal I-2020 sebanyak 10,99 juta ton. Angka ini turun 12,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang capai 12,57 juta ton.

Secara bulanan, produksi minyak sawit Indonesia pun  turun. "Produksi sawit pada bulan Maret sedikit lebih rendah yakni 0,9% dari produksi bulan Februari 2020," kata Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Jumat (8/5).

Sementara itu, konsumsi minyak sawit dalam negeri dalam tiga bulan pertama tahun ini mencapai 4,5 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan konsumsi di periode Januari-Maret 2019 yang sebanyak 4,3 juta ton.

Baca Juga: Harga CPO rebound 2% ke RM 1.989 per ton berkat stok dan produksi CPO Indonesia turun

Pada bulan Maret, konsumsi minyak sawit untuk pangan dalam negeri sebesar 721.000 ton, turun sekitar 8,3% dibandingkan Februari yang capai 786.000 ton. Berbeda dengan kebutuhan pangan, konsumsi produk oleokimia justru naik 14,5% menjadi 104.000 ton, sementara konsumsi biodisel mencapai 673.000 ton atau relatif sama dengan bulan sebelumnya.

"Ketidakpastian waktu teratasi nya pandemi Covid-19 menyebabkan konsumsi minyak sawit untuk produk pangan menurun. Sebaliknya, produk oleokimia naik karena kebutuhan kebutuhan bahan pembersih sanitizer meningkat," ujar Mukti.

Dia menambahkan, dari 68.000 kenaikan konsumsi oleokimia, 55% terjadi pada gliserin yang merupakan bahan pembuatan hand sanitizer.




TERBARU

[X]
×