Reporter: Andri Indradie | Editor: Test Test
JAKARTA. Seiring naiknya harga baja dunia, manajemen PT Penataran Angkatan Laut (PAL) mengambil beberapa langkah drastis agar tak merugi. PT PAL bahkan optimis, tahun ini mereka bisa untung sekitar Rp 3 miliar.
Langkah pertama yang dilakukan adalah negosiasi ulang kontrak pengadaan enam unit kapal yang nilainya lebih dari US$ 120 juta atau sekitar Rp 1,14 triliun. Direktur Utama PT PAL Harsusanto mengatakan, langkah sebagai antisipasi risiko kerugian lebih besar. "Saat teken kontrak beberapa tahun lalu, harga baja masih US$ 450 - US$ 500 per ton. Sekarang sudah US$ 1.300 per ton." ujarnya.
Harsusanto menambahkan, memang sempat terjadi penurunan harga baja komersial. Namun, menurutnya, harga baja khusus hingga kini masih sangat tinggi. Alhasil, kenaikan ini bisa berdampak buruk bagi bisnis PT PAL yang sempat merugi sebesar Rp 400 miliar tahun lalu.
Harsusanto mengaku, selama semester I tahun ini, perusahaan sempat melakukan efisiensi dan penghematan. Misalnya, reutilisasi bahan baku plat baja dan penggunaan cadangan bahan baku dengan tujuan mencapai imbal hasil optimal. Makanya, ia optimistis PT PAL bisa meraup untung. "Harapan saya, untung sampai Rp 3 miliar," tandasnya.
Saat ini, sudah ada lima pembeli yang memesan kapal buatan PT PAL. Tiga pembeli berasal dari Italia, sisanya dari Jerman dan Turki. Untuk Italia, PT PAL akan menyelesaikan pembuatan dua kapal tanker kimia (chemical tanker) senilai US$ 22 juta atau Rp 209 miliar. Keduanya berkapasitas 6.200 dan 24.000 dry weight tones (dwt).
Selain itu, masih untuk Italia, PT PAL juga segera merampungkan kapal dry cargo vehicle (dcv) kelas 18.500 dwt senilai US$ 18,5 juta atau Rp 175,8 miliar. Untuk memenuhi pesanan Jerman dan Turki, PT PAL meluncurkan produk branding STAR 50 Double Skin Bulk Carrier 50.000 dwt. Nilainya mencapai US$ 29 juta atau Rp 275,6 miliar.
Sekadar informasi, selama semester I tahun ini, PT PAL telah menyelesaikan tiga pesanan kapal. Harsusanto berharap masih bisa merampungkan 5-6 kapal lagi hingga akhir tahun ini.
Ke depan, PT PAL juga berencana menuntaskan proyek pembuatan 21 kapal hingga akhir tahun 2009. Total dana yang dibutuhkan untuk proyek ini mencapai US$ 40 juta.
Harsusanto mengatakan, akan ada berbagai sumber dana untuk mencukupi dana tersebut. Beberapa di antaranya adalah penerbitan promissory notes berjangka 2,5 tahun, pinjaman Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan kerja sama dengan Perusahaan Pengelola Aset (PPA). "Besok kami akan bertemu PPA. Kami belum tahu skemanya seperti apa." tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













