Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara I (Persero) atau PTPN I memperluas tanam tembakau hingga 500 hektare pada musim tanam 2026 ini seiring meningkatnya permintaan produk Tembakau Besuki Bawah Naungan (TBBN) dan Tembakau Deli.
Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas mengatakan, kedua produk dinilai memiliki karakter daun yang elastis, halus, stabilitas bakar, warna premium, rasa eksotik, dan aroma khas sehingga menarik minat pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan kawasan lain.
Sejumlah karakteristik itu juga yang katanya membedakan produk BUMN perkebunan tersebut dari produk tembakau asal Kuba.
Oleh karena itu, PTPN I mengaku siap menggenjot produksi dengan memperluas tanaman dan meningkatkan produktivitas. Teddy bilang, pihaknya juga akan menjaga kualitas produk dengan memperhatikan karakteristik khas yang dimiliki selama ini.
Baca Juga: Permen UMKM Terbit, Platform E-Commerce Wajib Transparan Soal Biaya ke Seller UMK
"Langkah menanam tembakau hingga 500 hektare ini diambil demi menjamin kontinuitas pasokan dalam memenuhi kontrak-kontrak internasional. Kami optimistis segmen cerutu premium memiliki pasar tersendiri yang tetap menjanjikan dan kebal krisis di tengah ketatnya regulasi tembakau global," kata Teddy dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Daya saing ekspor PTPN I ditopang oleh tren volume produksi yang tumbuh dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data internal perusahaan, grafik produksi tembakau premium perseroan menunjukkan tren yang bervariasi tetapi kembali bangkit.
Pada tahun 2021, volume produksi tercatat sebesar 748.638 kilogram (kg). Angka ini sempat turun ke posisi 729.544 kg pada 2022, sebelum akhirnya melesat menjadi 932.837 kg pada 2023.
Tren positif ini terus berlanjut di tahun 2024 dengan capaian 974.489 kg, kemudian turun tipis ke posisi 972.243 kg pada tahun 2025.
Pertumbuhan volume ini berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas lahan. Produktivitas per hektar melonjak dari 1.238 kg/ha pada 2021, sempat turun ke 1.090 kg/ha pada 2022, naik menjadi 1.372 kg/ha pada 2023, dan kembali tumbuh ke 1.382 kg/ha pada 2024.
"Puncaknya, produktivitas lahan berhasil menyentuh angka tertinggi di posisi 1.397 kg/ha pada tahun 2025," kata Teddy.
Dari sisi permintaan, PTPN I mencatat segmen produk mewah (luxury products), gaya hidup premium (premium lifestyle), pasar kolektor, dan sektor perhotelan kelas atas (high-end hospitality) juga terus bertumbuh.
Baca Juga: Dua Perusahaan Otomotif di Jawa Timur Bakal Pindah ke Vietnam, Satgas: Bisa Ditunda
Kendati demikian, PTPN I tidak memungkiri tantangan perubahan iklim yang membayangi sektor agribisnis, terutama komoditas tembakau yang merupakan tanaman semusim. Dus, untuk menjaga stabilitas mutu, manajemen menerapkan strategi mitigasi dari hulu ke hilir.
Langkah ini meliputi adaptasi agroklimat melalui penyesuaian kalender tanam dan penguatan monitoring cuaca secara real-time. Di sisi agronomi, perseroan mengandalkan penggunaan varietas yang adaptif serta peningkatan praktik budidaya berkelanjutan (sustainable farming).
Dari aspek jaminan mutu, manajemen memperketat kontrol kualitas, serta menerapkan sistem ketertelusuran (traceability) ketat dari fase pembibitan hingga pascapanen.
"Melalui komitmen hulu-hilir yang terintegrasi ini, PTPN I optimistis tembakau premium Indonesia akan terus mempertahankan posisinya sebagai standar mutu utama dalam industri cerutu global," tandas Teddy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














