kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.268   -97,49   -1,53%
  • KOMPAS100 822   -13,16   -1,58%
  • LQ45 626   -8,34   -1,31%
  • ISSI 217   -4,16   -1,89%
  • IDX30 351   -4,37   -1,23%
  • IDXHIDIV20 429   -5,35   -1,23%
  • IDX80 94   -1,42   -1,49%
  • IDXV30 118   -1,74   -1,46%
  • IDXQ30 112   -1,22   -1,08%

Metrodata (MTDL) Kejar Pertumbuhan 10% Hingga Akhir Tahun, Intip Strateginya


Selasa, 11 Agustus 2026 / 15:19 WIB
Metrodata (MTDL) Kejar Pertumbuhan 10% Hingga Akhir Tahun, Intip Strateginya
ILUSTRASI. Metrodata Elektronics (MTDL) Tebar Dividen Rp 331 Miliar (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Vina Elvira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) optimistis melihat prospek kinerja pada semester II-2026. Optimisme ini sejalan dengan pencapaian positif perusahaan pada periode paruh pertama lalu. 

Merujuk laporan keuangan, MTDL tercatat membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 16,7% secara tahunan menjadi Rp13,6 triliun, dari Rp11,7 triliun pada semester I-2025.

Sementara dari sisi profitabilitas, MTDL membukukan laba bersih Rp313,71 miliar pada semester I-2026, meningkat 6,6% dibandingkan Rp294,29 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Tekanan Pasokan Chip Meningkat, Xiaomi Pastikan Ketersediaan Smartphone di Indonesia

Presiden Direktur MTDL Susanto Djaja mengatakan, pertumbuhan di paruh pertama terutama ditopang oleh bisnis distribusi yang tumbuh di atas 20%. Sementara itu, segmen Business Solutions and Consulting mencatat pertumbuhan sekitar 3%.

"Jadi semester pertama revenue  kami growth-nya 16,7%. Itu terdiri dari pertumbuhan business solution and consulting sekitar 3% dan untuk distribution di atas 20%," ujar Susanto, Selasa (11/8).

Ia melanjutkan, pertumbuhan bisnis distribusi pada semester pertama didorong oleh kategori PC, laptop, dan smartphone. Hal ini sejalan dengan momentum Lebaran dan periode penerimaan mahasiswa baru, serta kenaikan harga perangkat akibat meningkatnya harga komponen seperti memori dan chip.

Khusus untuk kategori smartphone, pertumbuhan juga ditopang oleh perubahan perilaku konsumen yang semakin mempertimbangkan aspek value for money.

Manajemen melihat produk dengan harga lebih rendah dengan spesifikasi maksimal semakin diminati. Salah satu merek yang menjadi andalan MTDL adalah brand Infinix, yang saat ini disebut menduduki top 3 pangsa pasar di Indonesia.

Memasuki semester II-2026, ia memperkirakan pertumbuhan bisnis distribusi tidak akan setinggi semester pertama.

Kenaikan harga perangkat dan tekanan terhadap daya beli masyarakat menjadi salah satu pertimbangan.

Di sisi lain, MTDL akan mengandalkan pertumbuhan segmen Business Solutions and Consulting pada paruh kedua tahun ini. Ia melihat kebutuhan investasi teknologi perusahaan mulai kembali bergerak setelah sebelumnya banyak bersikap wait and see.

Baca Juga: MRT Jakarta Ekspansi Besar-besaran, Industri Konstruksi Ketiban Cuan

Karena itu, investasi teknologi terutama untuk kebutuhan data, artificial intelligence (AI), dan keamanan siber diperkirakan akan meningkat pada paruh kedua ini.

"Kalau kita hari ini yang relevan kan solution consulting. Itu perusahaan yang tadinya banyaknya wait and see. Sekarang mau tidak mau kalau investasi IT-nya harus direalisasikan juga. Karena kalau enggak, (harus) pindah  ke tahun depan,” paparnya.

Dengan kondisi tersebut, MTDL menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing sekitar 10% untuk tahun penuh 2026.

Untuk mengejar target tahun ini, perusahaan akan berupaya mempercepat proses deal hingga implementasi proyek pada semester II-2026. MTDL sendiri menyasar konsumen korporasi yang mulai merealisasikan belanja teknologi, termasuk untuk kebutuhan AI dan keamanan siber.

Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, MTDL juga mengantisipasi dampak kenaikan kurs terhadap biaya pengadaan. Di mana, sekitar 70% pembelian perusahaan telah dilakukan dalam rupiah, sementara sekitar 30% masih menggunakan dolar Amerika Serikat, terutama untuk sejumlah produk dan proyek solusi yang masih berasal dari impor.

Meski demikian, strategi lindung nilai atau hedging tidak dilakukan terhadap seluruh eksposur valuta asing karena mempertimbangkan biaya.

"Udah hedging, tapi nggak bisa semuanya. Kalau semuanya di hedging, ongkosnya terlalu mahal. Sebagian di hedging, sehingga mengurangi dampak kerugian kurs itu," kata Susanto.

Baca Juga: PLN Ungkap Proyeksi Kebutuhan Investasi untuk PLTS 100 GW Tembus Rp 1.781,9 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×