kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Publik Makin Andalkan Kecerdasan Buatan, Komdigi Mengingatkan Akurasi


Minggu, 18 Oktober 2026 / 14:07 WIB
Publik Makin Andalkan Kecerdasan Buatan, Komdigi Mengingatkan Akurasi
ILUSTRASI. Artificial Intelligence (AI) - Kecerdasan Buatan (REUTERS/Dado Ruvic)

Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengubah cara masyarakat mencari dan memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan dalam menjaga akurasi dan kredibilitas informasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, masyarakat kini semakin banyak mengakses informasi melalui teknologi berbasis AI, bukan lagi langsung dari sumber resmi seperti pemerintah maupun perusahaan.

“Hari ini publik tidak lagi mengakses data-data dari korporasi, dari lembaga, dari institusi, tapi lewat artificial intelligence,” kata Nezar, Sabtu (17/10/2026).

Menurut Nezar, perubahan tersebut menuntut setiap lembaga memastikan informasi yang disampaikan kepada publik akurat dan dapat dipercaya.

“Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi akses, tetapi soal kedalaman. Memakai AI saja tidak cukup, yang menentukan adalah kapabilitas dan kebijaksanaan dalam menggunakannya,” ujar Nezar.

Baca Juga: Ekspor Mobil CBU Indonesia Turun, Ini Daftar Merek dengan Pengiriman Terbesar

Maka, pemanfaatan AI perlu disertai kemampuan berpikir kritis, transparansi, serta tanggung jawab dalam mengelola informasi. AI harus menjadi alat bantu, bukan pengganti penalaran manusia.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Boy Kelana mengingatkan, perkembangan AI juga meningkatkan risiko penyebaran disinformasi, deepfake, dan berita palsu.

Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi melalui teknologi digital tidak selalu menjamin kebenaran. Karena itu, verifikasi dan tanggung jawab manusia tetap diperlukan dalam penggunaan AI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait


TERBARU

×