Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memperkuat berbagai kebijakan untuk menciptakan iklim investasi yang lebih menarik, khususnya di sektor transisi energi. Kepastian perizinan hingga dukungan pembiayaan menjadi sejumlah strategi yang disiapkan untuk mendorong masuknya modal ke sektor tersebut.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengatakan, besarnya potensi investasi di Indonesia belum otomatis membuat investor menanamkan modal.
"Potensi saja tidak cukup untuk menarik modal," ujar Rosan dalam agenda Indonesia Sustainability Forum 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Selasa (6/10/2026).
Menurut Rosan, salah satu aspek yang kini diperkuat pemerintah adalah kepastian proses perizinan. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025, proses perizinan kementerian dan lembaga diintegrasikan ke dalam sistem Online Single Submission (OSS) dengan tenggat layanan yang lebih jelas.
Baca Juga: Ekspor Mainan Indonesia Melonjak 18,2%, Pasar Global Makin Menjanjikan
Apabila tenggat waktu telah terlewati sementara seluruh persyaratan telah dipenuhi, permohonan izin dapat disetujui secara otomatis.
"Sejauh ini, saya telah menyetujui lebih dari 370 izin dan rekomendasi karena adanya Peraturan Pemerintah yang baru ini," kata Rosan.
Selain mempercepat perizinan, pemerintah juga berupaya mendorong agar investasi dapat segera direalisasikan di lapangan. Pada 2025, sebanyak 21 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menawarkan berbagai fasilitas fiskal serta layanan satu pintu bagi investor.
Rosan mengatakan, pemerintah juga menyediakan program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK). Melalui program tersebut, investor di kawasan industri yang memenuhi persyaratan dapat memulai kegiatan konstruksi sembari proses perizinan diselesaikan.
Pemerintah turut menawarkan berbagai insentif untuk investasi di sektor prioritas, termasuk energi bersih. Insentif tersebut antara lain berupa tax allowance dan pembebasan bea masuk.
Danantara dorong pembiayaan proyek transisi energi
Dari sisi pembiayaan, Rosan mengatakan BPI Danantara akan mengambil peran dalam mendorong pengembangan proyek agar memiliki kelayakan pembiayaan atau bankable. Upaya tersebut dilakukan dengan mengurangi risiko proyek sekaligus membuka akses terhadap sumber pembiayaan domestik dan internasional.
"Kami ingin membantu mengembangkan proyek yang bankable, mengurangi risiko, dan menarik pembiayaan yang lebih besar dari modal domestik maupun internasional ke sektor-sektor strategis," jelasnya.
Baca Juga: Begini Strategi UMKM Kembangkan Bisnis, Bidik Pasar B2B hingga Ekspor
Salah satu sektor yang telah memperoleh dukungan Danantara adalah pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE).
Rosan menyebut proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi mencapai Rp 225 triliun di Bali, Bogor, dan Bekasi telah memasuki tahap groundbreaking.
Pemerintah menargetkan groundbreaking proyek pengelolaan sampah menjadi energi di 12 kota hingga akhir 2026. Proyek tersebut akan mengadopsi standar emisi Eropa.
Menurut Rosan, investasi yang diarahkan secara tepat tidak hanya berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mendukung pembangunan berkelanjutan.
"Sumber daya, pasar, dan ambisinya ada di sini. Arah kebijakannya jelas. Dan yang terpenting, peluangnya ada di sini," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













