kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.835   -41,00   -0,23%
  • IDX 6.375   97,87   1,56%
  • KOMPAS100 833   11,37   1,38%
  • LQ45 633   7,57   1,21%
  • ISSI 221   4,34   2,00%
  • IDX30 351   3,57   1,03%
  • IDXHIDIV20 434   1,47   0,34%
  • IDX80 95   1,26   1,34%
  • IDXV30 119   0,20   0,17%
  • IDXQ30 112   0,55   0,49%

SCG Bukukan EBITDA Rp 24,1 Triliun, RI Jadi Pasar Pertumbuhan Penjualan Tertinggi


Rabu, 23 September 2026 / 16:11 WIB
SCG Bukukan EBITDA Rp 24,1 Triliun, RI Jadi Pasar Pertumbuhan Penjualan Tertinggi
ILUSTRASI. Produksi semen SCG Indonesia. Kinerja SCG menguat pada semester I 2026, dengan EBITDA naik 35% dan penjualan di Indonesia tumbuh 39% pada kuartal II 2026. (Dok/SCG)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Siam Cement Group (SCG) mencatat penguatan kinerja operasional pada semester I 2026. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp 24,1 triliun atau US$ 1,337 juta, tumbuh 35% secara tahunan.

Perbaikan kinerja tersebut ditopang sejumlah langkah efisiensi, mulai dari pengelolaan biaya, pemanfaatan energi bersih, optimalisasi pengadaan bahan baku, hingga disiplin pengelolaan keuangan.

Presiden dan CEO  Siam Cement Group, Thammasak Sethaudom, mengatakan perusahaan terus memperkuat fondasi bisnis dan meningkatkan ketangkasan operasional di tengah ketidakpastian global.

“SCG terus memperkuat fondasi bisnis, meningkatkan ketangkasan operasional, dan menjaga daya saing perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).

Baca Juga: Simpanan Jumbo di Perbankan Tumbuh Paling Tinggi Tembus Rp 5.999 Triliun

Sepanjang semester I 2026, SCG membukukan pendapatan dari penjualan sebesar Rp 146,3 triliun atau US$ 8,086 juta. Laba tercatat Rp10 triliun atau US$ 553 juta.

Pada kuartal II 2026, pendapatan penjualan mencapai Rp 76,8 triliun atau US$4,244 juta dengan laba Rp6,5 triliun atau US$359 juta.

Indonesia tumbuh paling tinggi

Indonesia menjadi salah satu penopang pertumbuhan SCG di kawasan ASEAN. Pada kuartal II 2026, penjualan SCG di Indonesia tumbuh 39% secara tahunan dalam mata uang lokal menjadi Rp 6,51 triliun atau US$ 360 juta.

Pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi di antara pasar ASEAN dan terutama didorong oleh peningkatan penjualan produk petrokimia SCGC yang diproduksi Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam untuk pasar Indonesia.

Selain petrokimia, bisnis semen dan material konstruksi SCG juga mencatat perbaikan kinerja pada semester I 2026. Pertumbuhan ditopang proyek infrastruktur pemerintah di Thailand serta perkembangan pasar di Vietnam dan Indonesia.

SCG juga mengintegrasikan bisnis SCG Cement and Green Solutions, SCG Smart Living, serta SCG Distribution and Retail melalui pendekatan One CBM. Integrasi ini mendorong pertumbuhan penjualan lintas kategori sebesar 15% secara tahunan dan memperluas jaringan subdistributor menjadi lebih dari 200 toko.

Pada bisnis petrokimia, SCGC mencatat perbaikan kinerja seiring peningkatan margin petrokimia, optimalisasi operasi pabrik, pengadaan bahan baku dari jalur di luar Selat Hormuz, serta peningkatan penjualan produk bernilai tambah tinggi.

SCGC juga melanjutkan proyek peningkatan penggunaan bahan baku etana di kompleks LSP, Vietnam, yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.

Baca Juga: Indonesia Jadi Kontributor Utama Pertumbuhan SCG di ASEAN

Di sisi portofolio investasi, SCGC telah mendivestasikan 14,86% saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai transaksi sekitar Rp14,04 triliun atau US$776 juta.

Dana hasil divestasi tersebut akan digunakan untuk mengurangi utang sekaligus mendukung pengembangan proyek LSP Ethane di Vietnam.

Sementara itu, bisnis pengemasan SCGP juga menunjukkan perbaikan kinerja. Indonesia kembali mencatatkan laba, didukung kenaikan volume penjualan kemasan domestik, penyesuaian harga jual, optimalisasi biaya, pengelolaan bauran energi, serta peningkatan efisiensi produksi.

Memasuki semester II 2026, SCG masih menghadapi tantangan berupa ketidakpastian geopolitik, persaingan harga, inflasi, dan volatilitas biaya energi.

Untuk menjaga kinerja, SCG akan melanjutkan restrukturisasi bisnis, pengembangan produk bernilai tambah tinggi atau High Value-Added Products (HVA), serta pemanfaatan robotik dan kecerdasan buatan dalam jaringan manufaktur di ASEAN.

Baca Juga: Terbesar di ASEAN, Indonesia Sumbang 28% Penjualan Regional SCG pada Kuartal I-2026

Strategi tersebut juga mencakup optimalisasi jaringan manufaktur, pengembangan proyek LSP Ethane, serta kolaborasi dengan mitra bisnis baru.

SCG memperkirakan langkah-langkah tersebut dapat menjaga ketahanan bisnis dan mendukung peningkatan EBITDA yang disesuaikan sepanjang 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×