Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keandalan sistem utilitas dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan operasional industri manufaktur.
Melalui anak usahanya, PT Berjaya Nawaplastic Indonesia, SCG menyoroti pentingnya investasi pada infrastruktur utilitas pabrik, mulai dari pengelolaan air, uap, listrik, hingga udara.
Presiden Direktur PT Berjaya Nawaplastic Indonesia Bandhit Lertpalanan mengatakan, sistem utilitas perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar komponen pendukung operasional.
“Perusahaan manufaktur perlu mulai memandang sistem utilitas sebagai investasi jangka panjang. Material perpipaan yang berkualitas, spesifikasi peralatan yang tepat, dan manajemen utilisasi peralatan menjadi faktor kunci,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (8/7/2026).
Ia menambahkan, dengan perencanaan utilitas yang tepat, perusahaan dapat menjaga efisiensi biaya operasional sekaligus memastikan kualitas dan kapasitas produksi tetap optimal.
Baca Juga: Terbesar di ASEAN, Indonesia Sumbang 28% Penjualan Regional SCG pada Kuartal I-2026
Sebagai gambaran, industri berbasis material cair seperti makanan dan minuman, kimia, kosmetik, hingga farmasi dapat membutuhkan sekitar 500.000 hingga 2 juta liter air per hari untuk menunjang proses produksinya.
Country Director SCG Indonesia Warit Jintanawan menilai, tren industri saat ini semakin mengarah pada praktik operasional berkelanjutan, sehingga sistem utilitas juga harus mampu mendukung efisiensi energi dan air.
“Sistem utilitas yang dirancang dengan baik dapat membantu pabrik meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan air, mengurangi risiko kebocoran maupun gangguan operasional, serta memperpanjang umur pakai infrastruktur,” jelasnya.
Ia menambahkan, melalui solusi perpipaan yang andal, pelaku industri juga dapat menekan konsumsi energi berlebih dan mendukung target dekarbonisasi.
Dalam operasional pabrik, sistem utilitas berperan penting antara lain dalam sirkulasi air produksi dan sistem pendingin. Gangguan pada sistem perpipaan berisiko menyebabkan kontaminasi, penurunan kualitas produk, hingga overheating pada mesin yang berdampak pada peningkatan konsumsi energi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, SCG melalui PT Berjaya Nawaplastic Indonesia menghadirkan solusi perpipaan seperti pipa dan fitting berbahan PVC dan PPR yang digunakan untuk distribusi air, bahan kimia, sistem pendingin, hingga pengolahan limbah.
Selain itu, perusahaan juga menyediakan komponen pendukung seperti ball valve untuk pengaturan aliran fluida, serta conduit pipe untuk perlindungan instalasi kelistrikan di lingkungan pabrik.
Baca Juga: SCG Bangun Empat Waste Station di Sukabumi, Dorong Pengelolaan Sampah
SCG juga mengedepankan pendekatan keberlanjutan melalui program ekonomi sirkular, antara lain dengan menyediakan layanan penggantian pipa rusak yang kemudian diolah kembali menjadi material baru.
Dari sisi rantai pasok, SCG mengintegrasikan proses produksi dari hulu hingga hilir melalui sejumlah entitas usaha, termasuk penyedia bahan baku, kemasan, hingga distribusi logistik.
Saat ini, produk pipa PVC dan fitting PVC yang diproduksi PT Berjaya Nawaplastic Indonesia telah dipasarkan di berbagai wilayah di Indonesia serta menjangkau pasar ekspor seperti Thailand.
SCG menilai, dukungan terhadap sistem utilitas yang andal menjadi salah satu kunci dalam mendorong transformasi industri manufaktur menuju operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan, sejalan dengan target net zero emission 2050.
Baca Juga: Penjualan SCG di Indonesia Tumbuh 15% pada 2025, Begini Strategi di 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














