kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45861,31   -4,94   -0.57%
  • EMAS918.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.32%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Smelter di Morowali untung, kenapa smelter tembaga rugi? Tony: Beda bos, itu nikel!


Kamis, 01 Oktober 2020 / 17:14 WIB
Smelter di Morowali untung, kenapa smelter tembaga rugi? Tony: Beda bos, itu nikel!
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas

Reporter: Azis Husaini | Editor: Azis Husaini

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Freeport Indonesia membeberkan bahwa smelter di Gresik yang sudah dibangun Mitsubishi dan Freeport tak pernah sekalipun memperoleh keuntungan. Saat ini PT Smelting mengolah dan memurnikan 1 juta konsentrat tembaga dari Freeport. Produk yang dihasilkan menjadi katoda tembaga 300.000 ton per tahun.

Asal tahu saja pada tahun 2000, di PT Smelting yang mengelola smelter tembaga Freeport memiliki 25% saham dan 75% saham sisanya dikuasai oleh konsorsium yang terdiri dari Mitsubishi Materials, Mitsubishi Corporation Unimetal Ltd dan Nippon Mining and Metals Co. Ltd.

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, smelter Gresik milik PT Smelting sudah 20 tahun tidak pernah mendapat keuntungan. 

"Mereka baru bagi dividen 2 kali dalam 20 tahun itu. Mereka dulu itu berharap demand katoda tembaga bisa naik, tapi nyatanya selama 20 tahun penyerapan industri domestik hanya 150.000 katoda tembaga. Sisanya 150.000 katoda tembaga diekspor," ungkap dia ke KONTAN, 8 September 2020.

Dia mengatakan berkaca dari itu semua maka tidak ada lagi yang membangun smelter kecuali Indonesia. Bahkan, China membangun smelter tembaga 15 tahun yang lalu. 

"Sekarang Indonesia baru mau bangun lagi. Jadi kenapa China untung, ya karena mereka punya perusahaan kabel dan ada pabrik otomotif disana yang besar besar. Terserap produksinya. Kalau China mau bangun smelter di Indonesia, ya monggo, Freeport yang suplai konsentratnya," terangnya.

Die menerangkan, banyak orang beranggapan Indonesia bisa membangun smelter layaknya di Morowali. "Di sana itu smelter nikel beda bos sama smelter tembaga," ungkap dia.

Dia membeberkan, nilai tambah nikel dan tembaga berbeda. Gambarannya, ore atau bijih nikel menjadi ferro nikel itu memiliki nilai tambah 60%-70% dan ore nikel ke nikel matte nilai tambahnya 75%.

"Kalau konsentrat tembaha itu bandingannya sama (ferro nikel dan nikel matte), jangan dibandingkan ore nikel. Konsentrat itu nilai tambahnya sudah 95% kalau masuk smelter jadi 100%. Masa nikel pig iron yang nilai tambahnya 4%-6% sudah dianggap produk akhir," imbuh dia.

Tony mengungkapkan, membangun smelter nikel lebih untung daripada menjual ore atau bijih nikel. Saat ini kata Tony, harga ore nikel untuk kadar 2% harganya US$ 50 per ton. Ongkos produksi masuk smelter US$ 10.000 per ton, sekarang harga produk nikel yang sudah diolah US$ 15.000 per ton. 

"Kan ada untung US$ 2.500 per ton. Saya mau bangun smelter kalau untungnya sama kayak smelter nikel. Ongkos gali ore nikel cuma US$ 20 per ton. Bandingkan dengan harga konsentrat tembaga sekarang sekitar US$ 2,80 per pound, kalau sudah jadi katoda tembaga harganya US$ 3 per pound. Sedikit marginnya tidak bisa menutup biaya investasi proyek. Harga konsentrat adalah dikurangi biaya pengolahan dan pemurnian. Itu rumusnya," ungkap dia.

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

Tag


TERBARU

[X]
×