kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.738.000   -32.000   -1,16%
  • USD/IDR 18.046   -27,00   -0,15%
  • IDX 5.595   -245,02   -4,20%
  • KOMPAS100 736   -35,18   -4,56%
  • LQ45 558   -23,17   -3,99%
  • ISSI 195   -8,81   -4,33%
  • IDX30 316   -12,58   -3,83%
  • IDXHIDIV20 392   -14,84   -3,65%
  • IDX80 84   -3,56   -4,08%
  • IDXV30 107   -4,76   -4,28%
  • IDXQ30 102   -3,95   -3,72%

Strategi Pertamina mencuil pasar negeri tetangga


Jumat, 13 Maret 2015 / 10:41 WIB
ILUSTRASI. Cara Memilih dan Menyimpan Kentang


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. PT Pertamina (Persero) menargetkan akan mengembangkan bisnis ritelnya dengan membuka Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa negara berkembang. Pertamina akan menggarapnya di tahun ini.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, lantaran pembangunan masih terbatas, Pertamina baru akan membangun 2 - 3 SPBU. "Belum banyak karena sifatnya baru pengurusan izin dan pembangunan awal untuk branding," jelasnya, kepada KONTAN, Jumat (13/3).

Rencananya, pembangunan SPBU akan dijajaki Pertamina di Kamboja dan Myanmar. Namun, kedua negara tersebut juga masih sebatas kajian. "Masih kita kaji, kalau selesai, kita jalankan tahun ini," jelasnya.

Dia bilang, lantaran masih tahap awal, investasinya tidak terlalu besar. Untuk membangun 2-3 SPBU itu anggaran yang diperlukan sekitar US$ 10 juta.

Selain pembukaan SPBU tersebut, kata dia, Pertamina juga membuka bunker service di Singapura untuk melayani Selat Malaka, serta aviation service di Jedah, Arab Saudi.

Hal tersebut dilakukan, untuk merebut pasar Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi kapal-kapal di Selat Malaka terutama yang keluar dan masuk ke wilayah NKRI. "Mereka tidak mengisi BBM di NKRI karena mahal akibat beban PPN, PBBKB dan iuran BPH Migas. Jadilah mereka mengisi di selat Malaka," ungkapnya.

Sejauh ini, tambah Bambang, pasar BBM di Selat Malaka dimakan oleh Singapura dan Malaysia. "Kebutuhan sangat besar, hingga 40 juta Kilo Liter (KL) per tahun, kita mau rebut bertahap, 10% saja dulu," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×