kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.335
  • EMAS679.000 -0,29%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Sumbang Rp 153 triliun, APTI apresiasi kontribusi IHT bagi penerimaan negara

Minggu, 02 Juni 2019 / 19:00 WIB

Sumbang Rp 153 triliun, APTI apresiasi kontribusi IHT bagi penerimaan negara

KONTAN.CO.ID - TEMANGGUNG. Ketua umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengapresiasi kontribusi Industri Hasil Tembakau (IHT) terhadap pendapatan negara yang cukup signifikan. Sepanjang tahun 2018, IHT tercatat berkontribusi kepada negara sebesar Rp153 Triliun.

Di lain sisi, kata Agus, keberadaan IHT selama ini cukup membantu pemerintah terutama terkait serapan angkatan tenaga kerja yang bisa dibilang sangat signifikan. Bayangkan, daerah penghasil tembakau di Indonesia tersebar di 15 propinsi dengan propinsi penghasil tembakau terbesar ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, NTB, Jabar dan DIY. 


"Di 15 propinsi tersebut penyerapan petani dan buruh tani tembakau ada sekitar 3 juta dengan luas lahan tanaman sekitar 235.000 Ha," kata Agus dalam siaran persnya, Minggu (2/6).

Dikatakan Agus, budidaya pertanian tembakau masuk dalam kategori tanaman musiman bukan tahunan. Setiap daerah mempunyai perlakuan budidaya tersendiri sesuai dengan karakteristik kearifan daerah. Jadi budidaya pertanian tembakau termasuk media pertanian yang ikut membantu pemerintah dalam hal penyerapan tenaga kerja.

"Kalau penyerapan ketenagakerjaan seluruh IHT saya kira banyak sekali mulai dari hulu sampai hilir, di tingkat pertaniannya saja sekitar 3 jutaan belum di industrinya juga tidak terhitung hingga sampai ke pedagang asongan juga ikut merasakan bagaimana bisa ikut bekerja sebagai penjual rokok," ujar Agus.

Agus menegaskan, jika berbicara angka serapan tenaga kerja, IHT sangat signifikan berkontribusi kepada negara terkait hal ini. "Saya kira mulai dari tingkat petani sampai ke distribusi yang kita sebut sebagai dampak positif IHT sangat menyerap sektor ketenagakerjaan yang sangat padat," tandasnya.

Agus juga menyoroti wacana kenaikan tarif cukai rokok oleh pemerintah. Menurutnya, jika kebijakan tersebut diterapkan justru dapat membuat IHT tidak dapat bergairah.

"Ketika cukai diprioritaskan setiap tahun naik, maka akan berdampak sangat negatif bagi petani karena dengan naiknya cukai maka harga rokok akan semakin tinggi, pasar akan makin lama makin lemah akan berdampak pada penyerapan bahan baku lokal," tegasnya.

Agus juga menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terutama terkait perlindungan tenaga kerja dan petani tembakau yang dirasa belum maksimal sampai saat ini. "Dalam hal perlindungan tenaga kerja di pertanian tembakau masih biasa saja tidak ada poin spesifik," katanya.

Perlindungan terhadap pertanian tembakau secara umum belum begitu maksimal. Kata ia, budidaya tanaman tembakau oleh pemerintah masih dibiarkan sendiri.

"Artinya petani menanam sendiri merawat sendiri dan menjual sendiri belum ada bimbingan secara khusus di pihak Pemerintah baik pusat maupun daerah untuk mendampingi agar hasilnya maksimal," ujarnya.


Reporter: Handoyo
Editor: Yoyok
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0661 || diagnostic_web = 0.3947

Close [X]
×