kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.981   89,00   0,50%
  • IDX 5.951   -150,14   -2,46%
  • KOMPAS100 774   -22,02   -2,77%
  • LQ45 584   -14,08   -2,35%
  • ISSI 206   -5,45   -2,57%
  • IDX30 331   -7,41   -2,19%
  • IDXHIDIV20 404   -8,15   -1,97%
  • IDX80 88   -2,47   -2,73%
  • IDXV30 109   -1,84   -1,66%
  • IDXQ30 106   -2,16   -2,00%

Sumber Daya Migas Baru Dominan di Laut Dalam, Butuh Investasi Tiga Kali Lipat


Rabu, 24 Juni 2026 / 12:58 WIB
Sumber Daya Migas Baru Dominan di Laut Dalam, Butuh Investasi Tiga Kali Lipat
ILUSTRASI. Pertamina Drilling Service Indonesia Avep Disasmita (KONTAN/Azi)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Utama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling), Avep Disasmita menjelaskan, lebih dari 70% sumber daya migas baru yang ditemukan pada tahun 2025 berasal dari wilayah deepwater dan ultra-deepwater. 

Bahkan, lanjut dia, sekitar dua pertiga sumur eksplorasi berdampak tinggi yang direncanakan pada tahun 2026 berada di area laut dalam tersebut.

Avep mengungkapkan, tren tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pengeboran di lingkungan yang semakin kompleks akan menjadi pembeda utama bagi perusahaan jasa pengeboran di masa depan. 

Baca Juga: Sinar Eka Selaras (ERAL) Bidik Peningkatan Penjualan di Momen Libur Sekolah dan PRJ

Future growth lies deeper, hotter, and more complex. Kapabilitas pengeboran kini menjadi strategic differentiator bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026).

Dari sisi bisnis, Avep mengungkapkan, proyek deepwater membutuhkan biaya investasi dan operasional hingga tiga kali lebih besar dibanding proyek perairan dangkal. 

Selain itu, risiko finansial juga membayangi karena biaya non productive time (NPT) pada pengerjaan laut dalam dapat mencapai kisaran US$ 1,5 juta per hari.

“Dalam proyek seperti ini, satu kesalahan operasional dapat menghapus nilai proyek yang dibangun selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Pertamina Drilling mencatat beberapa temuan migas strategis di Indonesia yang berada pada kategori laut dalam maupun High Pressure High Temperature (HPHT), di antaranya Tangkulo, Kutai Basin, dan Masela. 

Asep bilang, pengembangan lapangan-lapangan baru ini tentunya membutuhkan ketersediaan dana serta pengalaman teknis yang mumpuni agar proses bisnisnya tetap kompetitif.

Pengeboran di lingkungan kompleks ini dinilai membutuhkan mitigasi keselamatan yang ketat karena tingginya tingkat risiko operasional.

Baca Juga: Gas Mahal Guncang Industri Nasional, FIPGB Desak Jaminan Pasokan dari Pemerintah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×