kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Konsumsi CPO Naik akibat B50, Bagaimana Prospek Ekspor Sawit Indonesia?


Sabtu, 17 Oktober 2026 / 08:59 WIB
Konsumsi CPO Naik akibat B50, Bagaimana Prospek Ekspor Sawit Indonesia?
ILUSTRASI. Konsumsi CPO untuk biodiesel diproyeksikan naik seiring B50, berpotensi menekan ekspor sawit Indonesia dan memengaruhi harga minyak nabati dunia. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan kebutuhan bahan baku biodiesel berpotensi mengubah keseimbangan pasar minyak sawit Indonesia. Seiring rencana penerapan mandatori biodiesel B50, konsumsi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di dalam negeri diperkirakan meningkat, sehingga ruang pasokan untuk ekspor berpotensi menyusut.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, peningkatan konsumsi CPO domestik terutama didorong oleh kebutuhan bahan baku biodiesel. Konsumsi CPO untuk biodiesel diperkirakan mencapai 17,4 juta ton pada 2027, meningkat dari sekitar 12,7 juta ton pada 2025.

“Untuk tahun 2026 konsumsi biodiesel diperkirakan 13,7 juta ton,” kata Eddy kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Sebelumnya, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan konsumsi CPO domestik pada 2026 mencapai 27,1 juta ton, naik 7,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut setara dengan 51,3% dari total penggunaan sawit nasional dan untuk pertama kalinya diproyeksikan melampaui porsi ekspor yang sebesar 48,7%.

Baca Juga: Stok Pertalite Tersisa 16-18 Hari, Bahlil Ungkap Penyebab dan Solusinya

Di sisi produksi, produksi sawit nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 52,4 juta ton, tumbuh 1,86% dibandingkan 2025. Sementara itu, ekspor produk sawit diproyeksikan turun 15,4% menjadi 25,76 juta ton.

Eddy menilai, berkurangnya pasokan sawit Indonesia ke pasar internasional dapat memengaruhi harga minyak nabati dunia. Dampak tersebut berpotensi semakin besar apabila pasokan minyak nabati alternatif tidak mengalami peningkatan.

“Kalau ekspor turun maka akan berdampak terhadap harga minyak nabati dunia, kalau minyak nabati lain pun suplai-nya ketat tidak bertambah maka harga minyak nabati termasuk minyak sawit akan naik,” ujarnya.

Selain memengaruhi harga, penurunan volume ekspor juga berpotensi mengurangi penerimaan negara dari Pungutan Ekspor (PE) sawit. Di sisi lain, kenaikan harga produk sawit di pasar global dapat berdampak pada harga produk sawit di dalam negeri.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Menargetkan Tambahan Stok Pertalite Hingga 48 Juta Iiter

“Ini juga akan berdampak dengan berkurangnya Pungutan Ekspor dan harga produk sawit dalam negeri juga akan naik,” kata Eddy.

Direktur IPOSS Nanang Hendarsah sebelumnya menilai, peningkatan konsumsi CPO domestik perlu diimbangi dengan pertumbuhan produksi sawit nasional. Pasalnya, kebutuhan bahan baku untuk biodiesel dan permintaan ekspor sama-sama memiliki peran penting bagi industri sawit Indonesia.

“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting bagi Indonesia,” ujar Nanang.

Menurut dia, tantangan industri sawit ke depan adalah menjaga pertumbuhan produksi agar mampu mengimbangi kenaikan kebutuhan domestik. Dengan demikian, program ketahanan energi melalui biodiesel tidak semakin mempersempit ruang ekspor dan tetap mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×