Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Target pemerintah menambah kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 Gigawatt peak (GWp) dalam tiga tahun ke depan dinilai membutuhkan penyesuaian terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2025–2034.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengatakan, program PLTS 100 GWp membuat revisi RUPTL 2025–2034 menjadi kebutuhan yang logis. RUPTL yang disahkan Mei 2025 hanya menempatkan sekitar 17,1 GW PLTS dari total tambahan kapasitas 69,5 GW.
"Dengan target 100 GWp dalam tiga tahun, skala perencanaannya sudah berubah. Karena setiap pembangkit yang masuk sistem harus tercermin dalam RUPTL, revisi dibutuhkan agar proyek memiliki kepastian, bisa ditenderkan, dan layak dibiayai," ujarnya kepada Kontan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Bahlil Minta Masyarakat Menengah ke Atas Tak Pakai BBM Subsidi
Yusuf mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar berfokus pada target angka kapasitas semata dalam pengembangan energi surya.
Mengingat sifat listrik PLTS yang intermiten, dia bilang, penambahan kapasitas perlu diimbangi dengan kesiapan sistem pendukung seperti BESS, pumped storage, transmisi, hingga gardu induk agar manfaat ekonominya dapat terdistribusi secara optimal.
Di samping itu, kepastian iklim investasi dan skema komersial juga menjadi poin yang perlu dimasukkan ke dalam revisi RUPTL. Kepastian tarif serta skema Power Purchase Agreement (PPA) yang bankable sangat dibutuhkan untuk menarik minat investor, terutama guna memenuhi lonjakan kebutuhan listrik dari sektor industri hilir, smelter, serta data center.
Dari sisi kehati-hatian fiskal, Yusuf menyoroti risiko struktur kontrak dengan Independent Power Producer (IPP) terhadap beban keuangan negara.
Menurutnya, ekspansi pembangkit yang terlalu agresif tanpa memperhitungkan pertumbuhan permintaan riil berpotensi meningkatkan kewajiban take or pay PLN yang pada akhirnya menambah tekanan subsidi serta kompensasi pemerintah.
"RUPTL saat ini tetap menjadi fondasi penting. Sampai pertengahan 2026, PLN melaporkan sekitar 40% dari 4.118 proyek sudah masuk tahap eksekusi dan kapasitas terpasang bertambah sekitar 4,5 GW sejak dokumen diterbitkan," lanjutnya.
Yusuf menegaskan, keberhasilan program ini bukan diukur dari besarnya target di atas kertas, melainkan dari volume listrik hijau yang berhasil disalurkan ke sistem.
"Itu yang menentukan apakah target 100 GWp menjadi kapasitas yang produktif secara ekonomi atau hanya menjadi target pembangunan," pungkasnya.
Baca Juga: Kementerian ESDM Tegaskan RKAB Bayan Resources Rampung, Tepis Rumor Akuisisi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













