kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.825   36,00   0,21%
  • IDX 8.922   -53,67   -0,60%
  • KOMPAS100 1.233   -10,72   -0,86%
  • LQ45 874   -8,92   -1,01%
  • ISSI 328   -1,80   -0,55%
  • IDX30 443   -7,35   -1,63%
  • IDXHIDIV20 520   -13,62   -2,55%
  • IDX80 137   -1,24   -0,90%
  • IDXV30 144   -3,39   -2,30%
  • IDXQ30 143   -2,75   -1,89%

Tata Metal Ekspansi Pabrik Baja di Purwakarta, Bakal Tambah Produksi 250.000 Ton


Selasa, 27 Januari 2026 / 11:17 WIB
Tata Metal Ekspansi Pabrik Baja di Purwakarta, Bakal Tambah Produksi 250.000 Ton
ILUSTRASI. Groundbreaking Tata Metal Lestari (Tata Metal/Groundbreaking Tata Metal Lestari)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tata Metal Lestari menggelar ekspansi untuk menambah kapasitas produksi baja lapis melalui pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat.

Peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan pabrik ini berlangsung pada Senin (26/1/2026).​

Vice President of Operations Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi menyatakan bahwa pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat industri antara (midstream) baja nasional.

“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa penguatan di sektor ini, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” kata Stephanus melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Senin (26/1/2026) malam.

Baca Juga: Akses Dokter Spesialis Terbatas, Model Bisnis Baru Kesehatan Bermunculan

Fasilitas baru ini akan memproduksi sebesar 250.000 ton baja lapis per tahun, melengkapi total produksi Tata Metal Lestari sebesar 500.000 ton baja lapis per tahun yang sebelumnya telah diproduksi di CGL 1 di Cikarang, Bekasi.

Stephanus menambahkan, pembangunan CGL 2 ini juga merupakan bagian dari peta jalan Tata Metal Lestari untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap hingga 10 tahun ke depan.

Pembangunan CGL 2 ini sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global.

Saat ini, Tata Metal Lestari tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk ke pasar Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki standar kualitas tinggi.

Dalam pengembangan fasilitas CGL 2, Tata Metal Lestari menggandeng Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, untuk memastikan penerapan teknologi terbaik yang efisien dan ramah lingkungan.

“Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambah Stephanus.

Baca Juga: Satgas PKH Buka Potensi Agincourt Resources Diambil Alih MIND ID

Selain memperkuat ketahanan industri nasional, kehadiran CGL 2 diharapkan memberikan multiplier effect bagi daerah, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja baru serta penggerakan ekonomi lokal di Kabupaten Purwakarta dan Provinsi Jawa Barat.

Adapun, pembangunan CGL 2 ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan dengan total Rp 1,5 triliun, yang akan menambah tenaga kerja sekitar 350 orang.

"Proyek kami ini merupakan line yang pertama di South East Asia, yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga dapat meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali," ungkap Stephanus.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengapresiasi PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmennya dalam memperkuat industri baja nasional melalui investasi berkelanjutan.

Peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan fasilitas CGL 2 ini sejalan dengan implementasi Asta Cita, khususnya dalam memperkuat kemandirian industri dan mendukung hilirisasi.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kemenperin mencatat, dalam lima tahun terakhir, produksi baja nasional meningkat hampir 98,5% dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 8,5 juta ton. “Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” imbuh Agus.

Baca Juga: Target Produksi Batubara Dipangkas, Kontraktor Bidik Peluang dari Kenaikan Harga

Sebagai upaya memacu kinerja industri baja nasional, Kemenperin terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis, antara lain penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.

Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo menambahkan bahwa Kemenperin optimistis, pembangunan fasilitas CGL 2 akan memperkuat ekosistem hulu sampai hilir di industri baja nasional sehingga dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, yang mendukung tumbuhnya perekonomian nasional.

“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” tandas Dodiet.

Selanjutnya: Lonjakan Harga Perak 6% Lebih: Pelarian Dana ke Safe Haven Berlanjut?

Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Hari Ini Selasa 27 Januari 2026 Turun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×