Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah ketidakpastian geopolitik, volatilitas energi, dan meningkatnya risiko perubahan iklim, negara-negara ASEAN menghadapi tantangan mempercepat transisi hija.
Transisi tersebut tidak hanya menyangkut pengurangan emisi, juga bagaimana negara-negara di kawasan menjaga ketahanan energi dan daya saing ekonomi. Sekaligus memastikan dunia usaha, UMKM, pekerja, dan masyarakat dapat beradaptasi.
Presiden dan CEO SCG,Thammasak Sethaudom mengatakan, pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan tidak seharusnya menjadi dua pilihan yang saling bertentangan.
"Transisi ini harus mampu memperkuat ketahanan energi dan daya saing, sekaligus memastikan dunia usaha, UMKM dan masyarakat dapat berkembang bersama,” ujar Thammasak dalam keterangannya, Selasa (28/9).
Menurut dia, ada tiga aspek yang perlu berjalan beriringan, yakni transisi energi, transisi yang adil, dan adaptasi iklim. Transisi energi diarahkan pada penggunaan energi yang lebih bersih dengan tetap menjaga keamanan pasokan dan daya saing. Sementara transisi yang adil perlu memberikan ruang bagi UMKM, pekerja, dan masyarakat untuk beradaptasi.
Baca Juga: Aturan Baru SPM Jalan Tol Ditargetkan Terbit Oktober 2026, Sanksi BUJT Diperketat
Di Indonesia, sejumlah upaya telah dilakukan untuk menerapkan konsep tersebut. SCG, misalnya, memanfaatkan refuse derived fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif dalam produksi semen. Dalam setahun, sebanyak 62.790 ton sampah kota yang telah diolah digunakan sebagai RDF.
SCG juga menjalankan Gerakan Desa Berdikari (Gesari). Sejak tahun 2019 telah mendukung lebih dari 78 UMKM melalui penguatan kapasitas dan akses pasar. Sementara pada aspek adaptasi iklim, program Clean Water for All dijalankan untuk memperkuat ketahanan air di tingkat lokal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














