kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.521   21,00   0,12%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Usung Target PLTS 100 GW, Prabowo Dorong Kolaborasi Energi Terbarukan di ASEAN


Jumat, 08 Mei 2026 / 10:14 WIB
Usung Target PLTS 100 GW, Prabowo Dorong Kolaborasi Energi Terbarukan di ASEAN
ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan energi terbarukan (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto mendorong negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN) memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan energi terbarukan. Hal ini disampaikan Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam - Indonesia - Malaysia - Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5).

Prabowo mengungkapkan bahwa sub kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Mulai dari tenaga air, surya, angin, hingga lahan subur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Potensi tersebut merupakan salah satu modal utama dalam mendukung transisi energi. "Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sub regional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN," kata Prabowo sebagaimana disiarkan dalam keterangan resmi Kementerian ESDM, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga: Menakar Peluang dan Tantangan Kejar Target Pemerintah Stop Impor Solar pada 2026

Prabowo mendorong langkah konkret negara anggota forum untuk mempercepat pengembangan energi bersih di kawasan ASEAN. Beberapa langkah yang disoroti antara lain pengembangan tenaga air di Borneo (Kalimantan), perluasan proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir.

Prabowo turut mencontohkan sejumlah langkah yang tengah dijalankan Indonesia dalam mempercepat pengembangan energi surya, yakni dengan target mencapai kapasitas 100 Gigawatt (GW).  "Kita tengah membangun (pembangkit listrik) tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita. BIMP-EAGA memiliki potensi yang besar," ujar Prabowo.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia ikut mendampingi Presiden Prabowo dalam KTT BIMP-EAGA. Bahlil mengungkapkan konferensi ini mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035, yang merupakan kerangka strategis yang diadopsi pada KTT ke-16 Mei 2025.

Kolaborasi ini bertujuan untuk menjadikan kawasan Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina lebih inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif secara ekonomi. Visi ini berfokus pada penguatan konektivitas, transformasi pariwisata, dan pembangunan ekonomi.

Guna mewujudkan visi tersebut, empat negara BIMP-EAGA juga membuat klaster-klaster yang berfokus pada sektor pembangunan tertentu, salah satunya ialah Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC). Indonesia menjadi Ketua PEIC untuk periode 2022-2025, yang selanjutnya diketuai oleh Malaysia untuk periode 2026-2029.

Baca Juga: PLN IP Dorong Solar PV Solution & Beyond kWh melalui Kerja Sama Pasar Karbon Global

"Hasil dari klaster ini meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik, proyek energi terbarukan, elektrifikasi pedesaan, dan program efisiensi energi serta konservasi energi. Program ini akan memperkuat kolaborasi subregional, sehingga masyarakat di daerah remote area mampu mengakses energi dengan harga yang terjangkau," ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan, Kementerian ESDM tengah menjalankan arahan Presiden dalam transisi energi, yaitu dengan meningkatkan bauran energi baru terbarukan, termasuk untuk memanfaatkan sumber energi baru seperti hidrogen, nuklir, dan ammonia.

Transisi energi juga dilakukan melalui elektrifikasi dengan kendaraan listrik (EV) dan kompor induksi, efisiensi energi, moratorium Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru, serta dengan Carbon Capture and Storage dan Carbon Capture Utilisation and Storage (CCS/CCUS).

"Kita juga sedang mendorong pemanfaatan tenaga surya untuk menjadi PLTS 100 GW untuk mengurangi pemakaian fosil. Tentu ini memerlukan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut," pungkas Bahlil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×